Metamorfosis

Sebelum bahasan saya melebar ke mana-mana layaknya keju cheddar yang ditabur di atas macaroni sebelum memasuki oven, aku pastikan tulisan ini hanya tentang justifikasi mengenai depresi sebagai suatu bentuk lain dari perubahan menjadi lebih baik.

Aku hanya bisa berharap masa-masa ini bisa juga disebut sebagai masa transisi, di mana diriku yang buruk seperti ulat bulu sedang berubah pelan-pelan menjadi seekor kupu-kupu.

Aku sedang merasa tidak berharga setelah menyadari bahwa hati ini hanya penuh dengan niat untuk pamer, penuh rasa iri terhadap kebahagiaan orang lain.. Hati ini hanya sibuk dengan rencana-rencana tentang bagaimana tampak mulia di depan manusia. Dalam keadaan yang sepertinya baik pun hati ini ingin memuaskan nafsu sesaat, melayani kemalasan, menunda kebaikan… Maksudku, kuhabiskan waktuku selama ini untuk memupuk pohon di hatiku, yang setelah tumbuh menjulang dan akarnya tertancap dalam, kusadari pohon itu bernama kesombongan.

Semoga semua kehinaan di dalam hatiku segera sirna. Walau dengan kepergian kotoran-kotoran hati itu aku akan merasa lemah lungai bagai sehelai benang basah. Aku merasa hampa dan seperti kehabisan ATP untuk melanjutkan denyut hidup. Aku merasa wajahku yang dikelupas dari bagian depan kepalaku, atau menenggelamkan diri ke inti bumi akan terasa lebih baik daripada harus menghadapi dunia dengan minimnya akhlak baik dalam diriku.

Ya, aku merasa grafik kehidupanku saat ini sedang mampir di lembahnya. Rasanya semua orang memandangku dan mengasihani kekosongan hatiku akan kebaikan. Rasanya semua orang mendahuluiku di tikungan, kemudian menyempatkan diri menoleh dan menertawakan ketidaksiapan diriku menjalani jalur hidupku sendiri. Kuharap rasa hampa akan kebaikan dalam diri ini hanya sementara. Mungkin memang sakit, sesakit si penghuni kepompong yang mendobrak selongsongnya sendiri. Rasa lunglai ini mungkin pula hanya bentuk kesadaran bahwa kapak yang kupunya tidak cukup tajam untuk menebang pohon sombong di hatiku.

Mungkin pilihan terbaik adalah tetap berjalan lurus ke depan dengan kepala tegak, bagaimanapun terlukanya diri ini. Apapun yang terjadi, kuseret kaki untuk terus maju. Ada wujud yang harus kujelma; seekor kupu-kupu yang cantik dan yang akan membantu penyerbukan para bunga. Iya, benar sekali, hati yang kosong dan perasaan tidak berharga ini tak ubahnya suatu proses transformasi saja; sakit, namun kritis dan harus dilalui, hanya sementara namun butuh kesabaran untuk lolos darinya.

I want to keep moving forward however bruised and injured I am. After all I caused most of the injuries myself. And surely there will never be a better time than now to repent.

Metamorfosisku layaknya operasi pengangkatan tumor..(moslemscientists.blogspot.com)
Metamorfosisku layaknya operasi pengangkatan tumor..(moslemscientists.blogspot.com)

Tuh kan, aku masih saja merasa kurang dengan analogi ‘metamorfosis ulat menjadi kupu’ dalam hal ini, dengan menambahkan ‘pohon sombong di hati yang harus ditebang dengan kapak yang tajam’ dan ditambah lagi dengan ‘keburukan di hati sebagai tumor yang harus diangkat melalui operasi.’

-Loving the ugly me. If not myself, who else would? *self-pat, and weep a bit*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s