Tentang Tuhan

Pada akhirnya semua orang akan mengakui bahwa jagat raya dan seisinya adalah ciptaan Tuhan dan kita sebagai salah satu bagian dari ciptaan-Nya ini adalah hamba-Nya. Pada akhirnya di sini maksud saya di hari akhir nanti, di mana bumi mengalami bencana alam terbesar yang membuat seluruh makhluk hidup penghuninya meninggal. Sebelum meninggal itulah, semua orang akhirnya akan mengakui keesaan Tuhan, merasa takut dengan perbuatan sepanjang hidup mereka yang mereka tahu tidak disenangi Tuhan, dan berbisik atau berteriak lantang memohon ampun pada Sang Pencipta mereka.

picture is taken from http://sogoodislam.wordpress.com/2012/10/24/help-spread-the-message-of-islam-allahswt-will-help-you/
Bacaan setiap solat

Dalam sebuah buku yang saya lupa judulnya, disebutkan bahwa dalam keadaan terdesak yang dirasa mengancam nyawa, seseorang hampir dipastikan menyebut nama Tuhan. Hal ini bukan berarti setiap orang memiliki secuil memori tentang waham induksi (istilah lain untuk ‘agama’), melainkan bahwa pengaturan awal eksistensi jiwa adalah hamba Tuhan, yang diciptakan-Nya dan akan kembali pada-Nya. Contoh lain untuk pengetahuan tentang kehambaan ini adalah seorang atheis dalam keadaan-keadaan tertentu terutama yang membutuhkan respon cepat tidak akan cukup cepat mengatur otaknya masuk ke gelombang beta untuk kemudian berargumen mengenai pentingnya menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Semacam refleks, lontaran tentang Tuhan dapat keluar begitu saja dari mulut seorang atheis.

Satu lagi contoh penting tentang pengetahuan manusia bahwa dia hamba-Nya adalah sejarah. Sejarah sejak adanya manusia menunjukkan bahwa kegiatan utama manusia adalah pencarian Tuhan. Ada bangunan candi dan ritual di tanah Jawa, ada mitologi Yunani beserta kuil-kuilnya di Mediterania, ada bangunan-bangunan penting di daratan Asia Timur maupun selatan, di Amerika Selatan, dan di tempat lainnya yang ditujukan untuk ibadah. Ada agama-agama, kepercayaan dan keyakinan, dan perkumpulan spiritual. Semuanya menunjukkan bahwa nenek moyang kita mendamba Tuhan dan mencari tahu cara penghambaan terbaik.

Mengapa hal ini penting dibahas? Saya ingin mengajukan analisis mengenai perbedaan mendasar antara orang-orang soleh dengan orang-orang ingkar. Orang soleh menurut saya sama saja dengan orang yang mengingat esensi dirinya sebagai hamba Tuhan dan berlaku sesuai esensi tersebut. Orang ingkar bisa dikatakan sebagai orang yang pura-pura lupa dengan esensi kehambaannya dan menunda bertobat. Mungkin dia menunggu nyawanya hampir terangkat dari raganya, misalnya ketika ditarik malaikat, sang utusan Tuhan, mencapai tenggoroknya. Saat itulah dia tidak bisa lagi berpura-pura lupa. Saat itulah dia akhirnya berkata pada Tuhan bahwa dirinya sudah capek melarikan diri dari esensinya sendiri, sudah lelah dan ingin kembali, sehingga mohon diampuni. Saat itulah dia terpaksa ingat bahwa sebelum nyawanya dititipkan di jasad yang meringkuk di rahim ibunya, kesaksian telah terucap, bahwa Tuhan adalah Ilahnya.

Orang soleh tidak suka menunda untuk mengakui kehambaannya. Orang yang lebih soleh lagi melakukan sesuatu dengan kesadaran itu. Mungkin benar kata sebuah pepatah bahwa di dunia ini hanyalah ada dua tipe manusia; penunda dan bukan penunda. Orang soleh tentulah bukan penunda, menyegerakan yang baik-baik bagi dirinya karena dia tak tahu waktu yang dia punya. Dia tidak tahu apakah dia punya empat puluh tahun, seratus tahun, atau dua puluh tujuh tahun saja. Sedangkan si penunda adalah orang ingkar yang saya sebut tadi. Dia menunda menghamba, menunda melakukan yang baik bagi dirinya, berharap punya banyak waktu. Ketika habis waktunya, dia menyadari penundaannya, menyesalinya, dan berharap dimaafkan.

Jika masih belum jelas perbedaan antara orang soleh dan ingkar, orang ingkar ini menunda karena tertutup hatinya. Dia hanya mau berhenti jika di depan matanya disodorkan gambaran nyata tentang hari akhir, tentang penghabisan waktu di dunia, tentang kesaksian yang dibuatnya sendiri sebelum mewujud sebagai manusia bahwa dia hamba Tuhan. Dia mengandalkan mata kepalanya, dan bukannya menggunakan mata tertajam dalam dirinya yaitu hatinya. Dia punya hati untuk merasakan tanda-tanda dan kasih sayang Tuhan namun memilih tidak menggunakannya. Tuhan-lah yang punya kuasa atas ciptaan-Nya, apakah hati ini tertutup atau terbuka. Dan Dia Maha Mendengar dan Mengabulkan sekecil apapun harapan atas kebenaran yang terbersit di hati.

Untunglah juga bahwa Tuhan Maha Penyayang. Bahkan setan pun disayang-Nya. Apalagi hanya seorang yang ingkar. Tetaplah dia bisa tidur nyenyak di kasur empuk di malam hari, memiliki keluarga yang mencintainya, makan makanan enak setiap harinya. Dan dia akan berkata itu semua karena usahanya. Tuhan, Zat Yang Tidak Membutuhkan Apapun, tidak butuh disembah. Para hamba-Nya menyembah atau tidak, Dia Tetap Yang Maha Esa, Yang Maha Agung, Sang Pemilik Kerajaan di langit dan bumi. Seluruh manusia di bumi ingkar pun, tetaplah Dia Sang Raja. Tetaplah para malaikat dan hewan dan tumbuhan selalu bertasbih dan mengagungkan kebesaran-Nya.

Iya, maksud saya itu saja; entah dunia berputar, waktu berjalan, atau kiamat terjadi, atau waktu berhenti, Tuhan tetaplah Tuhan, satu-satunya Zat Tertinggi di seluruh alam raya ini. Hanya Dia Sang Pemilik dan Tempat Kembali segala sesuatu. Orang ingkar menyembah atau tidak, waktunya akan tiba. Waktu yang menandai habisnya jatah kehidupan di dunia, yang akan dilanjutkan kehidupan abadi entah di surga atau neraka sesuai kehendak-Nya. Waktu bertemu kembali dengan Tuhan Yang Maha Pengasih, penagihan pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan selama di dunia, tentang amnesia buatan mengenai Keesaan-Nya. Jadi maksud saya, kita ini yang sebenarnya butuh pada Tuhan, bukan sebaliknya. Kita ini yang harus berusaha menjadi baik dalam tujuh puluh tahun (atau dua puluh tujuh tahun?) hidup kita. Kesempatannya hanya sekarang (karena kita tidak pernah tahu kapan deadline kita), setelah itu mati dan harus menyampaikan laporan LPJ.

Iya, ini tulisan tentang Tuhan. Semoga Dia Mengampuni dosa-dosa kita semua. Aamiin.

Catatan: Terima kasih yang sudah membaca sampai ke kalimat ini. Mungkin saya hanya gelisah dengan perilaku atheisme dan kedurhakaan lainnya. Atau mungkin sayalah orang ingkar pertama yang harus terus diingatkan bahwa Tuhan itu ada dan Menunggu tobat saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s