Akhir Kisah si Gadis Maskulin

Belum bosan membahas tentang jodoh dan pernikahan. Pastilah dulu aku adalah anak kecil yang bercita-cita menjadi seorang pengantin cantik. Selain itu, ada saatnya di mana aku menuliskan pemikiran dan suara hatiku dalam buku harian yang rahasia itu. Ada pula saat di mana aku harus menuliskannya agar dibaca dunia; siapa tahu ada yang butuh diingatkan bahwa dia tidak sendirian. Aku di masa depan pun, sepertinya akan belajar banyak dari tulisan ini, setidaknya menertawakan kebodohanku sendiri. Tulisan-tulisan lain dengan tema serupa dapat dibaca di sini, sini, sini, dan sini, selain tulisan lainnya yang dapat ditelusuri dari tag ‘cinta’ di bagian terbawah halaman ini.

Flowers blossom at different times. Maybe mine does later than the others..
Flowers blossom at different times. Maybe mine does later than others..

Dalam 26 tahun lebih hidupku, aku dipertemukan dengan beberapa teman pria, yang berakhir sebagai sahabat maupun teman sekedar ‘hai’ alias saling menyapa tanpa kalimat basa-basi lebih jauh. Beberapa waktu lalu aku menyalahartikan persahabatanku dengan seorang teman pria, dan malah memimpikan kehidupan sebagai istrinya. Kisah itu berakhir ketika aku memastikan bahwa semua itu mimpi. Hingga saat ini aku mengutuki diriku yang kehilangan salah satu sahabat terbaikku itu demi melayani kemarahanku dan rasa dendamku padanya yang membiarkanku bermimpi, yang tega tidak membangunkanku ke dunia nyata. Kadang memang rasa dendam sering dibungkus dengan kertas kado rapi bernama sakit hati. Demi mengasihani diri sendiri yang merasa disakiti, seseorang rela mempertahankan rasa dendamnya, rela melewatkan praktek memaafkan tanpa syarat.

Di suatu hari yang lain dalam perjalananku mengarungi jiwaku sendiri, jalanku terhenti oleh sebilah cermin yang sangat besar. Di situ aku melihat diriku sendiri yang merasa tidak aman dengan diri sendiri, yang mengelak atas pernyataan-pernyataan positif yang menghampiri. Uniknya cermin penghalang jalan ini bisa menghilang menjadi kehampaan ketika bayangan di dalamnya disukai oleh pengamatnya. Entah berapa lama aku termangu di situ menatap cermin besar yang memantulkan bayanganku sendiri, sampai akhirnya si cermin sirna, dan aku bisa lanjut berjalan. Mungkin saat itu aku sedikit tersenyum pada bayanganku sendiri dan tampak berusaha memakluminya. Entahlah.

Ada satu fragmen kecil dalam linimassa hidupku ketika aku berdoa siang malam minta dipertemukan dengan pria yang beriman, dan ketika Tuhan Mengirimnya untukku, aku justru sibuk menilainya dan akhirnya menolaknya. Belum ada pembenaran atas penolakanku selain bahwa hatiku saat itu tidak bisa dipaksa. Aku memutuskan untuk memperbaiki diri sendirian dan menanti kiriman berikutnya, daripada mengambil risiko tumbuh bersama orang soleh tersebut. Beberapa waktu kemudian, yaitu saat ini, aku masih seperti dulu, yang tidak kunjung kuat imannya, tidak cantik sabarnya, tidak banyak syukurnya.

Kejadian membaca artikel tentang jodoh dari segi agama di sini menjadi bagian penting dalam perjalananku walau kegiatan itu hanya memakan waktu beberapa menit. Pencarian jodoh, keputusan menikah dan hidup bersama sepanjang sisa usia adalah satu dari sekian banyak perkara dunia yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat nanti. Kejadian apapun di jagad raya ini, bahkan daun yang jatuh karena tertiup angin terjadi atas kehendak-Nya, tentu saja, namun kita selalu bisa memilih jodoh kita. Artikel itu juga membuatku berhenti menyesali penolakan tak berdasar beberapa waktu lalu itu.

Jauh sebelum pertemuanku dengan cermin penghalang jalan itu, ada ide tentang dominasi energi maskulin dalam diriku yang menjauhkanku dari menjalin hubungan romantis dengan pria. Ide itu disampaikan oleh satu atau dua sahabatku saat itu. Belum selesai aku mencerna ide betapa maskulinnya aku ketika beberapa orang yang baru mengenalku selama beberapa hari sudah meminta izin padaku untuk menempelkan label maskulin di dahiku. Saat itu aku cuma meyakinkan diri bahwa tidak ada yang perlu diubah dalam sikapku hanya demi mengumpulkan fans.

Pertanyaanku adalah, haruskah energi maskulin dilemahkan, dan energi feminin dikuatkan, agar akhirnya ada pria soleh yang terpesona kemudian meminangku? Haruskah semua wanita melewati fase memperkuat energi feminin dalam hidupnya sebelum akhirnya menikah? Inikah yang dimaksud dengan jodoh adalah perkara muamalah, yang hanya bisa terjadi dengan perbaikan cara bergaul? Jika jawaban untuk ketiga pertanyaan itu adalah ‘iya’ maka aku sedang berada di jalan yang benar, di mana aku merasa saat ini energi femininku jauh lebih kuat.

Ciri energi maskulin adalah berorientasi target, termotivasi oleh tujuan, kompetitif, logis, dan ciri lainnya, sementara energi feminin berkisar antara menjadi peka, berekspresi diri, mencintai sesuatu, merawat, dan hal-hal berbasis perasaan lainnya. Dalam sejarah panjang peradaban manusia, pencarian jodoh selalu dikaitkan dengan usaha untuk melestarikan spesies manusia, dan gen-gen yang baik terwakili oleh tampilan fisik tertentu. Ketertarikan kita pada kegantengan/ kecantikan orang, suaranya yang indah, dan bentuk tubuhnya, adalah sifat alami sebagai manusia yang tanpa sadar menyeleksi calon pasangan sebagai kontributor kromosom untuk keturunan kita. Selain itu, kapabilitas reproduksi calon pasangan akan terwakili oleh energi maskulin atau feminin yang ditampilkannya. Dengan kata lain, wanita feminin akan lebih mudah terpilih karena ada jaminan yang tersirat bahwa dirinya subur? Haha, mungkin..

Ketika akhir-akhir ini aku kesulitan menjawab tujuan hidupku setiap ditanya orang, aku merasa aku sedang menguarkan energi feminin. Tentu saja pertanyaan itu dimaksudkan untuk menanyakan target-target karir, sedangkan jawaban sederhana dalam hatiku untuk pertanyaan itu adalah menjadi istri dan ibu yang baik, yang sama sekali bukan karir. Dari sini aku sangat yakin aku sedang menjadi gadis feminin. Aku akan dengan lancar membahas tentang hobiku membaca, membuat kue, dan hal-hal lain, daripada membicarakan tentang rencana sekolah lagi. Seharusnya aku bangga dengan perubahan pada diriku, yang mungkin sudah terjadi bertahun lalu pada teman-temanku yang saat ini sudah beranak dua.

Aku tidak bangga dengan kegagalanku menjawab pertanyaan tentang karir, namun aku sedang mensyukuri perubahan dari label maskulin di dahiku menjadi sedikit lebih feminin. Namun saat ini aku sangat butuh energi maskulin untuk menyelesaikan thesisku dan lulus sekolah masterku ini. Dengan demikian keseimbangan energi maskulin dan feminin harus ada dalam setiap individu, terlepas dari gendernya, jika tidak ingin sekolahnya keteteran sepertiku.

Pelajaran yang kudapat dari terhentinya perjalananku oleh cermin besar adalah bahwa aku semakin mengenal diriku yang kurang merasa aman. Dari pertemuanku dengan mantan sahabat priaku aku belajar memaafkan. Dari penolakanku atas pria soleh membuatku merendahkan hati dan ingin memperbaiki diri. Dari pelabelan maskulin di dahiku oleh teman-temanku, aku mulai mempertimbangkan untuk melembutkan diri.

Seperti tulisan-tulisanku tentang cinta, jodoh, atau pernikahan sebelumnya di blog ini yang dipicu oleh suatu kejadian, pengalaman terbaruku dengan seorang kenalan pria membuatku ingin menulis ini. Singkat cerita, aku sudah bersikap cukup feminin sebelum akhirnya aku bertindak sangat maskulin dengan bersikap agresif mendekatinya. Akhir ceritanya mudah ditebak, yaitu kemungkinan kami berpasangan mendekati nol. Belum nol, karena mungkin aku punya kualitas-kualitas yang dia cari terlepas dari kuatnya energi maskulinku yang mungkin cukup mengganggu. Namun yang pasti, kejadian ini menyiratkan pelajaran bahwa menjadi gadis maskulin bukanlah cara efektif untuk mendekatkan diri pada jodoh. Setidaknya demikian pengamatanku.

Advertisements

2 thoughts on “Akhir Kisah si Gadis Maskulin

  1. Wah maap aku baca sampe abis, kesannya kepo ya haha.

    Ano… IMO jangan berusaha merubah diri dan kepribadian dalam masa “pencarian”. Jadi diri sendiri aja, yang paling penting itu membuat diri sendiri nyaman. Kalo merasa belom ketemu jodohnya, mungkin memang belom saatnya aja. Yang penting kan usaha. Jodoh itu emang harus dijemput :p. Dan kalo tampak seperti “ngejar” cowo sehingga keliatan “maskulin”, yah namanya juga orang ikhtiar :p. Kayaknya kebanyakan cewe sekarang juga maen tarik ulur hahaha. Mau cewe feminin, pake rok, pasang status romance2 di FB, eaaa ngejar2 cowo juga (i.e. nyapa di sms, neror di FB, suka nelpon2, etc), itu masuk jenis “maskulin” juga kaaan haha.

    Kadang jodoh ketemu ketika kita ngga punya ekspektasi apa2. Saat nggak lagi menggebu2 nyari malah dateng sendiri. Yang penting tetep hepi hepi dan “beredar” (salah satu jenis ikhtiar :p), dan yang paling penting: nyaman ama diri sendiri.

    Anyway jangan galau yaa :-* Semangaat.

    P.S.
    Setelah dibaca ulang, apeu ini contentnya ngga jelas –“. Maap sebelumnya kalo pesennya ngga sampe –“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s