Cermin yang Buram

cermin

“Hati adalah cermin.”

Kalimat ini sungguh dalam maknanya, dan mungkin satu tulisan saja tidak cukup panjang untuk menjelaskan artinya. Hati merupakan benda yang memantulkan bayangan, sehingga apa yang kita lihat sesungguhnya adalah apa yang ada pada diri kita. Namun seperti cermin, dia bisa buram dan bisa juga bersih cemerlang. Semakin buram maka bayangan yang dipantulkannya semakin sulit terlihat. Dengan kata lain, jika kita melihat ke luar diri kita dengan hati yang buram maka bayangan diri kita tidak akan tampak jelas.

Sebagai orang galau yang belum berhenti mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan filosofis mengenai mengapa aku diciptakan di dunia ini dan apa tujuan hidupku, aku mencoba membaca karya-karya tasawuf. Di situ pendekatan “cermin” ini banyak digunakan dalam mendefinisikan agama dan kedekatan dengan Tuhan. Sementara kelompok Islam lain yang sempat aku pelajari, you know what lah, mengatakan bahwa ajaran tasawuf karya kaum sufi itu lebih banyak sesatnya daripada benarnya. Maksudku, jika ingin mengetahui dengan jelas maksud pembicaraan tentang cermin ini, mungkin buku-buku agama beraliran sufistik dapat memberikan penjelasan yang memuaskan.

Bayangkan kita memasuki rumah tua tak berpenghuni yang usianya sudah ratusan tahun. Di dalamnya terdapat sebilah cermin besar. Kita yakin itu cermin ketika melihat sudutnya yang masih memantulkan cahaya yang lewat dari pintu depan. Sedangkan sebagian besar lainnya dari cermin itu tertutup debu tebal, sarang laba-laba, dan entah apa yang tampak seperti karat. Nah, jika satu sudut cermin yang masih cemerlang itu tertutup tirai jendela di dekatnya, mungkinkah kita tahu bahwa benda itu adalah cermin? Mungkin tidak. Demikian juga hati, jika kotornya terlalu kotor dan melekat lama sehingga sulit dibersihkan, pemiliknya akan lupa hakikatnya bahwa hati berfungsi merefleksikan diri kita.

Aku jadi ingat buku karya Harun Yahya, lupa yang berjudul apa, bahwa dunia ini sebenarnya hanyalah ide dalam kepala kita. Apapun yang dipersepsi oleh indera kita sesungguhnya hanya terjadi karena kinerja otak kita. Kita sendiri yang menciptakan citra tentang dunia ini. Jika kita anggap tulisan beliau benar, maka aku hanya ingin mengaitkannya dengan hati kita sebagai cermin, bahwa apa yang kita lihat (yang sangat tergantung pada ‘bersihnya cermin’ alias keadaan hati kita) menciptakan pandangan kita pada kehidupan ini.

“Maybe life would be so much prettier if we like what we see in the mirror.”

Sayang sekali kutipan di atas asli bikinanku sendiri beberapa minggu yang lalu di twitter.  Maksud hati sih ingin menegaskan bahwa apa yang kita lihat adalah keadaan diri kita sendiri, dan ketika kita tidak menyukai apa yang kita lihat, sesungguhnya kita sedang membenci diri sendiri. Mungkin istilah yang lebih halus  adalah ‘sesungguhnya kita sedang menjadi seorang pesimis dan negative thinking terhadap diri sendiri.’ Sehingga salah satu cara memperbaiki cara pandang kita terhadap dunia adalah, yang pertama dan utama, mencintai diri sendiri. Ketika kita sudah mencintai diri sendiri dengan tulus, lengkap dengan segala kelebihan serta kekurangannya (walau belum sepenuhnya dapat kita maafkan), mungkin hati kita akan mencerminkan bayangan yang juga akan kita cintai. Ah aku makin absurd ya, sepertinya.

Mengapa aku merepotkan diri menjelaskan hal absurd yang kebenarannya pun masih sangat kontroversial semacam ‘hati adalah cermin’ ini? Mungkin karena baru-baru ini aku mengalami kejadian yang akan kujadikan pelajaran seumur hidupku. Aku mengenal seseorang yang ternyata tidak kusukai. Beberapa waktu setelah menjauhinya baru aku sadar bahwa aku sedang melihat diriku sendiri pada orang itu, dan aku membenci penglihatanku itu. Maksudku, ide bahwa dia mempunyai sifat ini dan itu yang tidak kusukai tentu muncul dari kenyataan bahwa sifat-sifat itu juga kumiliki, atau minimal pernah kumiliki. Ya, dalam pokok bahasan ini, orang-orang paling keren sedunia adalah mereka yang optimis dan positive thinking sehingga tidak mengutuki apa yang mereka lihat dan alami.

Bahkan Tuhan pun Mengatakan dengan jelas, ” Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku kepada-Ku…” Jika kita yakin Dia Maha Pengasih, maka demikianlah Dia. Sehingga tugas utama adalah memperbaiki prasangka kita. Sedangkan prasangka itu sendiri tercipta dari keadaan hati kita tempat prasangka berasal. Memperbaiki hati, alias mempertahankan bentuk asli dari hati itu sendiri berupa cermin yang bersih cemerlang. Mungkin aku memang perlu melengkapi amunisi semacam kain bermerk Kanebo dan cairan pembersih bermerk Clean, atau bahkan perlu menyiapkan kemucing untuk menyapu debunya dulu. Aih, lagi-lagi agama yang sempurna ini sudah menyiapkan barang-barang tersebut, yang masuk dalam lemari bernama “Dzikrullah” alias mengingat Tuhan yang bentuknya beragam berupa salat, puasa, tilawah, dan lain-lainnya.

Begitulah. Semoga ada yang sabar untuk mencari makna implisit dari ketidakmampuanku menyampaikan ide tulisan ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s