Jendela

Dari jendela kamarku di lantai dua, aku bisa melihat langit. Malam ini warnanya biru sederhana. Biru itu tidak tua maupun muda. Awan-awan menutupi biru itu, awan putih yang tampak jelas, mungkin karena sinar bulan yang tak tampak dari jendelaku. Mungkin juga karena sinar lampu kota, yang seperti senter menyorot ke atas.

Jendelaku juga membolehkan wangi serbuk bunga di musim semi menghampiri kamarku. Tapi bulan Oktober ini aku belum mencium wanginya. Mungkin memang sudah berakhir masanya, bunga-bunga itu menyebar serbuknya. Mungkin sekarang mereka telah matang, bahkan layu setelah menghibur para serangga, dan kami para pejalan kaki atau pengendara sepeda.

Suara kereta api yang melaju di dekat rumah juga masih setia menyusup lewat jendelaku. Jika beruntung, aku pun bisa mendengar suara tik-tok saat lampu hijau pejalan kaki menyala. Perempatan dengan lampu itu jaraknya seratus meter saja dari kamarku.

Aku ingat beberapa minggu lalu, jendelaku menampilkan warna jingga. Saat itu pukul sebelas malam dan kupikir itu terlalu aneh, Aku sempat menyimpulkan jingganya karena limpahan sinar lampu dari bumi yang tercecer sampai ke atmosfer. “It’s the city of light” kata sebuah kartu pos tentang kota ini. Warna jingga itu sudah jarang kulihat. Mungkin memang khusus malam itu, karena malam yang lain kulihat warna biru tua, sangat tua.

Jendelaku ada tiga, semuanya kaca dan kubiarkan terbuka. Tidak besar sih, bentuknya persegi dan aku harus berjinjit untuk meraih engselnya. Tak ada tirai, apalagi teralis. Teman kos selalu menyarankan untuk ditutup, tapi aku setuju dengan ibu kos untuk membiarkannya terbuka. Musim dingin atau semi, wanginya berganti. Jendelaku juga membuatku segera terjaga lewat terangnya matahari yang memutihkan langit.

Malam ini birunya semakin ungu. Entah tercampur merahnya lampu kota atau pengaruh cahaya komputer di hadapanku ini terhadap pandanganku. Wangi serbuk bunga sudah tak ada sisanya. Aku ingat sepanjang jalan dari kota tadi juga tak tercium wanginya. Kecepatan sepedaku biasanya terlampaui oleh angin pembawa serbuk-serbuk itu.

Malam ini tidak ada angin. Aku harus segera menyelesaikan tulisan ini, kemudian tidur dan berdoa minta Tuhan Membangunkanku sebelum matahari mengubah biru ini menjadi jingga.

Foto: jendela Lab di RS di lantai lima..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s