Galau (episode 2-selesai)

(lanjutan)

Pada akhirnya aku tidak bisa dikategorikan sebagai bagian dari suatu komunitas ilmiah ketika aku terlalu gegabah menyimpulkan banyak hal dalam tulisan ini. Satu contoh adalah bahwa ketika kubilang gemuk berarti tidak bahagia, dan bahwa ilmuwan di sini hidupnya tampak bahagia hanya karena mereka selalu ceria.
Kembali kepada ketiadaan jawaban untuk pertanyaan apa yang akan kulakukan dengan hidupku, ini bukanlah kasus gawat darurat. Aku punya waktu untuk menjawab. Namun tentu saja semakin cepat semakin baik. Semakin dini aku memutuskan tujuanku, semakin dini aku berangkat sehingga ketika sampai tujuan matahari masih bersinar.
Teringat pembicaraanku dengan seorang mantan teman baik (sekarang hanya teman karena kesalahanku sendiri), bahwa kadang cita-cita hidup tidak harus selalu diutarakan dalam kalimat konkret seperti pekerjaan atau karir, karena apapun yang terjadi nanti pasti baik jika kita selalu melakukan yang terbaik mulai sekarang dan seterusnya. Aku sangat ingin berpegang pada kalimat itu, dan kupikir semua orang sudah melakukannya. Maksudku sebagian besar orang yang kukenal melakukannya; memiliki niat baik untuk mengabdi pada bumi dan penghuninya, yang sesungguhnya merupakan ejawantah dari pengabdian kepada Tuhan. Tetap saja aku galau, apa peranku di bumi ini?
Kesimpulan sementara adalah aku menghindari jika ditanya mengenai cita-cita dalam hal karir. Saking bencinya, aku ingin waktu berhenti sehingga aku bisa menangis sepuasnya, atau memandang semua orang bergerak di sekitarku melakukan pekerjaan mereka sehingga aku bisa segera memutuskan apa yang ingin aku lakukan. Namun apakah waktu cukup permisif padaku?

Advertisements

6 thoughts on “Galau (episode 2-selesai)

  1. Not deciding is a decision in itself, so don’t feel bad about it 🙂
    You’re not being indecisive, you are simply taking your time.

    One of the best advice I’ve ever gotten from anyone (he happened to be professor) was: “Kamu jangan mikir mau jadi apa, mikir mau KERJA apa”.

    And that my friend, was liberating. It changed my life. After those words, I got to thinking about what I want and like to do, instead of just what I should be. I think about teaching instead of being a lecturer. I think about loving infectious diseases, instead of stressing out about when I will become an infectious disease specialist. I think about the substance, the work, and the sacrifices I am willing to give for what I truly desire to do.

    Your life is a verb, not a noun.

    Another best advice (also from another professor) is : “What matters is substance. Your work will speak for itself.”

    Moral of the story: be indecisive, take your time, be a verb, but make sure that you get to do what you LOVE.

  2. to me, gemuk means happy 😛

    yes, not choosing an option is your right, but remember that life is full of choice. In the final way, we just have to choose one out of two.

    kalo saya ‘raba-raba’ tulisannya, apakah ini semacam merasa salah pilih jurusan gitu ya? *sotoy mode on :p

    1. Halo Dinie, salam kenal 😀
      thanks ud mampir dan sudi membaca, ak lgsg liat blog2mu, keren 🙂 akan mampir dan komen2 deh..
      btw as I said, I am taking my time, not necessarily being indecisive/ not choosing anything. 😀

      Regards,
      Ayu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s