Galau (episode 1)

Suatu hari aku ditanya mengenai apa yang akan kulakukan dengan hidupku di masa depan. Sam yang menanyakan. Kujawab, aku ingin sekolah spesialis, kemudian sekolah doktor. Stop sampai situ dia bertanya apakah yang akan aku lakukan dengan dua tahap pembelajaran tersebut. Tujuan spesifik apa yang kamu arah, dan aku tidak bisa menjawab.
Di suatu hari yang lain seorang teman di lab menceritakan padaku bahwa seorang mahasiswa kandidat doktor akan mulai aktif lagi setelah cuti beberapa bulan. Dia adalah seorang dokter ahli endokrin anak yang mengambil sekolah doktor, jadi temanku ini pikir pasti akan seru jika aku bisa mengobrol dengannya. Aku setuju. Namun temanku menambahkan bahwa orang ini tampaknya kurang memiliki motivasi yang kuat untuk menjalani sekolahnya karena terlalu sibuk sehingga merepotkan banyak orang di lab untuk menyelesaikan penelitian-penelitiannya. Dari situ aku merespon bahwa aku takut jika itulah hal yang wajar terjadi di mana pun di dunia; seorang dokter spesialis sukses yang ingin mendapatkan gelar doktor demi menambah kesuksesan itu sendiri, supaya semakin tampak kredibel, dan semacamnya.
Beberapa minggu kemudian seorang professor yang juga ahli genetik bertanya padaku apa yang akan kulakukan di masa depan. Dengan pengalamanku bersama Sam di mana aku merasa malu karena menimbulkan kesan bahwa aku hanya mengejar titel dan bukannya punya tujuan spesifik dengan cita-cita sekolahku, maka aku memilih diam. Sang professor tidak memberikan komentar apa-apa, kecuali tawa kecil ketika aku menegaskan bahwa di umur 26 tahun ini aku belum mengetahui apa mauku.
Di hari-hari berikutnya, aku menikmati setiap seminar ilmiah yang diselenggarakan institusi ini. Sebagian besar aku tertidur, tentu saja, karena makan siang gratis yang enak yang selalu tersedia. Namun di saat-saat aku terjaga, aku mengagumi bagaimana para ilmuwan ini menemukan ide untuk memulai penelitian yang mereka presetasikan di depan. Tentu saja sebagian besar materi pembicaraannya tidak kumengerti, sebagian karena bahasa Inggrisku, dan sebagian lainnya karena aku tidak cukup banyak membaca dan belajar tentang apapun yang mereka presentasikan.
Orang Jawa bilang bahwa menungso iku sawang sinawang. Secara harfiah kalimat tersebut berarti manusia itu saling memandang. Makna di balik kalimat itu adalah kita hanya bisa menilai orang dari apa yang kita lihat. Tentu saja hal itu tidak mungkin untuk dijadikan patokan penilaian karena yang tidak kita lihat jauh lebih banyak. Dengan pandanganku terhadap komunitas ilmuwan di institusi ilmiah ini, aku melihat kebahagiaan dan ketentraman di wajah orang-orang di sini. Mereka tampak bahagia. Mereka berinteraksi sosial secara normal, punya keluarga, bergaul dengan teman sesama di lab dan di luar lab. Mereka juga tampak berkecukupan secara ekonomi. Mereka masih muda, sebagian besar langsing, dan ramah. Mereka langsing karena mereka cukup berolahraga dan makan sehat, yang menurutku merupakan indikator kebahagiaan karena tidak menjadikan makanan sebagai sumber kebahagiaan yang berujung kegemukan.
Maka sampailah aku pada kesimpulan bahwa menjadi ilmuwan adalah salah satu karir pilihan yang patut dipertimbangkan. Tampaknya aku akan bahagia dalam kehidupan seperti ini sampai akhir hayatku, di mana aku selalu bisa meneliti di lab yang nyaman dan canggih semacam ini. Aku bisa berinteraksi dengan orang-orang ramah seperti mereka ini. Aku bisa selalu mendengarkan pembicaraan ilmiah yang bergaung di udara. Aku bisa mendapatkan pembiayaan penelitian yang aku lakukan bersama suatu tim atau bersama supervisorku. Aku akan menjelajah internet atau membaca jurnal ilmiah yang tersebar di ruang minum teh atau di perpustakaan. Aku tidak perlu khawatir tentang neurosisku ketika bertemu pasien dan tanggung jawab moral untuk membuat mereka merasa lebih nyaman. Aku tidak perlu khawatir malpraktik. Aku akan bisa terus bergantung pada seseorang mengenai proyek penelitian yang akan aku lakukan. Yang harus aku lakukan adalah menciptakan kredibilitas dan mempertahankannya agar aku selalu bisa terpakai.
Aku sadar pertimbangan barusan murni karena neurosisku, dan bahwa aku cenderung tergantung orang lain. Ada diagnosis klinis untuk itu, yaitu gangguan kepribadian tipe dependen. Bagaimanapun juga, aku merasa ilmuwan adalah pelabuhan paling tepat untuk hidupku, karena ini adalah posisi final di mana aku tidak perlu merasa terancam secara mental. Tentu saja posisi ini sendiri aslinya sudah menantang dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memaksa kita untuk terus maju dalam berpikir dan bertanya.
Aku ingat di awal tahun ini seorang professor yang baik hati menanyakan cita-citaku. Aku menjawab bahwa aku ingin menikah dan punya tiga orang anak. Seperti sebelumnya, professor ini mengganti topik pembicaraan sebelum akhirnya berkomentar apakah mungkin aku mendapatkan seorang suami dalam waktu dekat untuk mencapai tujuan itu. Pembicaraan itu menjadi di luar konteks karena yang kutulis saat ini adalah tentang karir.
Kenyataan bahwa ini adalah pengalaman pertamaku tinggal di negara maju, atau lumayan maju, membuat perenungan ini bias dan terlalu gegabah. Bisa saja apapun yang kulihat adalah hanya suatu kemapanan yang menyilaukan, yang bisa terjadi di bidang pekerjaan apapun. Sangat mungkin bahwa aku hanya tidak ingin praktik sebagai dokter. Selain itu, adanya kecocokan antara penelitian dengan pekerjaan sebagai dosen yang akan aku lakukan seumur hidupku, membuatku merasa ingin lompat ke kesimpulan bahwa menjadi ilmuwan adalah jawabannya.


Advertisements

5 thoughts on “Galau (episode 1)

  1. Waaaa,,,mba daaai. Ko qt sama siih? Selalu keringet dingin kl di dpn pasien, ga pede dan ga yakin dg ilmu yg dimiliki, dan selalu takut malpraktek…. >_<
    ayo mbaa, cemangat,cemangaat! Psti mb dai bs jd ilmuwan, eh, ilmuwati hebat di bidang genetika.:D

  2. cultural shock ya dai… tapi pemikiran macam itu boleh juga, sangat kontras dg yg ada di Indonesia… kalo boleh dibilang mencerahkan dari sisi yg lain… tinggal bagaimana mengaplikasikannya dg bijak 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s