Translet, Nikah, dan Kurus

.. Adalah tiga kata yang sangat penting dalam hidupku. Minimal tiga tahun terakhir ini. Sayangnya kata-kata yang terngiang itu tidak bermanifestasi sebagai usaha. Hanya wacana saja.

Ya, ya, aku tahu, tulisanku seringkali hanyalah berisi keluhan, dan sebagian besar keluhan bernada ‘aku malas’ atau ‘aku under-achiever.‘ Jadi daripada aku terus terobsesi dengan tiga hal tersebut namun tidak bersegera dalam mewujudkannya, mendingan aku mendata usaha-usaha yang telah kucatat dalam sejarah untuk mencapainya beserta evaluasinya, apakah berhasil atau gagal:

1. Translet: aku pernah benar-benar mengantri di bank Mandiri di RSDK demi membuka akun yang rencananya dijadikan untuk dompet penghasilan transletku. Suatu hari di stase sibuk, aku datang ke bank Mandiri dan mengisi formulir pembukaan akun baru, dan mengantri. Saat itu pukul setengah tiga. Bank tutup pukul tiga. Tas begitu berat, berisi laptop, buku-buku tebal, dan jas koas. Tiba-tiba aku punya ide cemerlang: besok saja ah! Yang penting isi formulir dulu, formulirnya dibawa pulang, besok ngantri di Bank lagi. Pasti lebih sepi, aku lebih segar, dan mungkin antrian akan lebih pendek dari ini. Hasil: hari besoknya itu aku gagal ke Bank lagi, dan sampai detik ini aku tidak punya tabungan translet. Semua uang habis untuk hedonisme dan kebutuhan sehari-hari.

2. Translet (lagi): Suatu hari aku pernah berencana menyediakan waktu tiga jam untuk menyelesaikan translet. Terlepas dari deadline yang ditetapkan, aku akan selalu menyediakan tiga jam dalam sehari. Akan selalu ada kerjaan translet setiap harinya. Selalu, aku bisa menjaminnya. Tapi sayang, wacana tinggalah wacana.

3. Nikah: Setiap kali ada seorang teman yang akan menikah, perasaan itu muncul. Entahlah, seperti rasa mulas di perut, dan aktivasi saraf simpatis lainnya. Singkat kata, aku merasa bersemangat dan terpanggil untuk mempersiapkan diri untuk menikah juga. Aku langsung berpikir bahwa my time will come, and I will have to be ready by then. Kemudian menuliskan target-target yang harus dicapai sebelum menikah. Contoh: harus sudah selesai membaca siroh nabawiyah. Dan beberapa belas target lainnya. Tapi kemudian aku lupa. Aku kehilangan kertas/buku bertuliskan catatan target itu, atau aku hanya sekedar malas saja. Tiba-tiba muncul kalimat di otak ini: santai lah, Belanda masih jauh. Persiapannya ntar-ntar aja.

4. Kurus: Pernah selama beberapa minggu aku naek sepeda gunung untuk berangkat ke kampus. Sepeda! Dengan tetap memakai rok panjang sebagai bukti bahwa aku mahasiswa FK Undip. Semuanya demi satu hal: kurus. Aku akan berangkat sepagi mungkin untuk mengurangi terik matahari dan pulang sesore mungkin untuk mengurangi terik matahari juga. Aku merantai sepedaku ke pohon di tempat parkir. Aku memakai sarung tangan dan masker untuk mengurangi efek buruk cahaya matahari dan timbal di jalanan. Aku mengurangi bawaanku agar tasku ringan dan kecil saja. Dan voila!! Beratku turun 2 kg dalam sebulan.

5. Kurus (lagi): Pernah suatu hari aku melihat iklan yang menjanjikan di jejaring sosial. Iklan produk yang menguruskan. Kebetulan yang jualan adalah temanku. Jadilah aku memesan, membayar, dan mengkonsumsinya. Cukup menyengsarakan, rasanya lapaaaar terus. Terus temanku itu melakukan follow up via telepon, ‘gimana Dai, ada keluhan?’ dan all i can answer is Lapaaar.. Dan dia bilang ‘harusnya gak gitu. klo lapar ya itu dikonsumsi lagi ‘ akhirnya produk itu habis juga, dalam waktu sebulan. Hasil: turun 2 kg. Tapi aku tidak meneruskannya lagi dengan alasan biaya. Mahal euy.

6. Kurus (lagi?!): Aku mendaftarkan diri ke gym alias fitness centre. Minggu pertama aku datang empat kali seminggu, sesuai petunjuk si personal trainer di situ. Minggu kedua aku, si koas, sering pulang sore, maka frekuensi kunjunganku semakin jarang. Minggu keempat aku hampir tidak datang. Hasil: lingkar perut menyusut, otot lengan mengencang, berat badan cuma bergeser satu kilo ke kiri. Tapi general feeling beda banget, rasanya segar dan fit terus. Tapi kemudian aku berhenti nge-gym karena stase besar dan aku harus jaga beberapa kali sebulan. Sekarang pun belum lanjut lagi karena jalan hidupku akhir-akhir ini yang akan nomaden.

7. Nikah: membandingkan diri dengan orang lain memang tidak ada habisnya. Contohnya membandingkan diri dengan sepupu, saudara, dan lainnya. Terutama masalah yang satu ini. Belum lagi membandingkan diri dengan teman yang semakin banyak yang menikah. Beberapa dari mereka dengan entengnya bertanya ‘Mau nikah? Emang calonmu siapa?’ Hey teman, jawabku dalam hati, sejauh pengetahuan dangkalku terhadap agamaku, mencari jodoh bukan dengan meyakinkan diri bahwa aku telah menggandeng seseorang menuju pelaminan dan jika belum maka mengusahakan pencarian itu, melainkan dengan memperbaiki diri sebaik mungkin dan berdoa, maka voila; sang jodoh akan sudah tiba-tiba berada di depan pintu. (citation needed!!)

Sekian catatan-catatan dariku. Aku akan melakukan update lagi kapan-kapan di artikel ini. 😀

Advertisements

7 thoughts on “Translet, Nikah, dan Kurus

  1. hahaha…kebiasaan menunda emang menyebalkan apalagi kalo kita sendiri yang yang punya kebiasaan buruk kaya gitu.. Aku juga sering menunda dan akhirnya aku yang kerepotan sendiri karena pekerjaan menumpuk…kalo udah gitu paling baru kerasa menyesal dan mengumpat pada diri sendiri yang hobi menunda. Jadi mulai sekarang tanamkan untuk segera menyelesaikan apa yang bisa diselesaikan hari ini. Ok! SEMANGAT..

  2. Gubraks… (pengen komen aja… tapi gak ada komentar mutu yang tersedia, adanya cuma peng-amin-an dan kisah yang sama… haha..)

  3. Pertama: selamat menempati blog yang baru.. Akhirnya beralih juga ke WordPress yang asli.. he3…

    Kedua: aku juga pengen ngurangin beberapa kilo nih.. ada saran? he3.. 😀

  4. @Dinda: siap! Procrastination is so deadly!!
    @Cis: amiiin 😀
    @Arif: Hehe thanks rif, mohon bimbingannya! Jangan bosan menjawab pertanyaanku.
    Btw rif, berat badan ternyata gak sepenting lingkar perut. Yang berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas (jyahh) adalah lingkar perut. Berat badan boleh gak turun, kan lemak berkurang tapi otot bertambah. Hehe.. Jadi saranku, cara terbaik untuk kurus/langsing adalah olahraga kardio (renang/jalan/jogging/sepeda/aerobik), kurangi lemak (gorengan, dll), sama kalo bisa weight lifting. Hehe theoritically sih, buktinya aku berhasil (*ironis) mempertahankan kegendutanku padahal aku udah tau teorinya.

  5. hahahhahahhahhaaa…
    cuma bisa komen ====> MBAK AYU BANGET!
    si penunda tp punya 1 kekuatan cukup hebat…yaitu the power of kepepet, cukup sakti mandraguna sebenernya, tp ckup bkin makan ati juga buat orang lain,,,hoho.
    hmm,,,kalo bisa sih “jurus sakti”nya jangan sering dipake sih -____-”

    mari bersama menuju kurus!
    salam kurus!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s