Kok Malas Kenapa Ya?


Akhir-akhir ini (baca: beberapa tahun terakhir ini) aku merasakan kemunduran mental emosional pada diriku yang berakibat pada kemunduran performaku di segala bidang, sebut saja dalam hal peran/pekerjaan/sekolah, sosial, penggunaan waktu luang, dan perawatan diri.

Patokanku mengapa aku merasa mengalami kemunduran adalah aku sulit mencapai banyak hal yang kuinginkan, sedangkan beberapa tahun sebelumnya aku merasa semua hal adalah mungkin. Ditambah lagi orang-orang di sekitarku lebih tampak berhasil meraih impian-impian mereka. Lebih jelasnya, banyak tersebar dalam blog ini, tulisan-tulisanku yang (ternyata, setelah kubaca-baca lagi) menggambarkan kemunduran tersebut. Hehe, memang sih, blog ini terlalu banyak mengandung curhatan, dan sebagian besar curhatanku pun berisi keluhan..

Beruntungnya aku sekolah di kedokteran, salah satunya adalah alur berpikir yang sistematis. Jadi dengan gejala-gejala tersebut di atas, aku membuat diagnosis, kemudian mencari etiologi, sehingga bisa memberikan terapi.

Gejala: kemunduran dalam segala bidang. >> bahasa medis: malas.

Diagnosis banding: tonsilitis kronis, episode depresi sedang, kesurupan setan malas.

Diagnosis: sedang akan ditegakkan.

Terapi: tergantung diagnosis.

Nah, begitulah ceritanya. Saya mulai menguji diagnosis banding tersebut satu per satu.

Tonsilitis kronis: ide ini muncul ketika aku memasuki stase THT. Gejala-gejala penderita tonsilitis kronis ternyata sangat pas untuk aku: sering mengantuk, mudah lelah, sulit konsentrasi… Nah, ternyata saat eksaserbasi akut pun aku secara klinis mengidap penyakit ini. Terapinya sih mudah saja, amandel ku musti diangkat. Nah, sekarang aku sedang mempersiapkan waktu luang.

Episode depresi sedang: Kalau yang ini tentu setelah aku membaca buku pedomannya ilmu kesehatan jiwa. Waw, ternyata ‘sangat aku!’ Kriteria minor depresi sangat merepresentasikan gejala-gejala yang aku alami. Dan terapinya adalah…. Pada intinya adalah psikoterapi. Bahasa awamnya adalah mengubah pola pikir. Depresi merupakan gangguan pola pikir yang bisa diubah dengan mengembalikan ke pola pikir normal. Nah, jadi ketika aku stres dengan apa yang terjadi di sekitarku seperti misalnya yang kubilang di atas bahwa banyak orang yang mengungguliku, seharusnya aku santai saja, tidak menjadikan orang lain sebagai patokan keberhasilan. Dan seterusnya.

Setan malas: Ini adalah diagnosis banding pertama yang terpikirkan oleh aku. Namun akhirnya aku taruh di paling bawah alias paling tidak mungkin. Sederhana saja, kamarku berisi setan (atau setan-setan) malas yang membuatku enggan berbuat, enggan produktif, dan enggan segalanya. Setan-setan tersebut harus dibasmi dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. Sujud dan menekuni kitab suci.

Saat ini aku merasa ketiga diagnosis banding di atas mungkin saling berinteraksi dan berkontribusi, dengan kata lain, ketiganya benar. Semuanya teruji, dan semuanya harus dibasmi. Mari!

Advertisements

3 thoughts on “Kok Malas Kenapa Ya?

  1. Wah, bu dokter kliatannya bener nih. Eh itu kalo berubahnya ritme sirkadian bisa bikin orang tidak efektif ga ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s