The Divine Message of Marriage

Wuih judulnya aja bombastis. Tapi jd bingung mau nulis apa.

Yah beginilah saya yang ternyata sedang jatuh cinta kepada seorang anak manusia. Cinta itu bukan ‘karena’ melainkan ‘walaupun’ jadi jangan paksa saya untuk membeberkan alasan-alasan mengapa saya mencintainya (dia, orang yang tidak perlu pembaca ketahui).

Saya mulai mengerti arti dari hal-hal seputar cinta sungguhan. Ya karena saya merasakannya sendiri. Iya, jadi selama ini saya hanya merasakan cinta monyet dan naksir-naksir yang sangat dangkal. Hahaha..

Saya mulai mengerti kenapa orang itu mau menikahi orang anu padahal si anu itu begini dan begitu. haha sangat abstrak kan, tulisan saya ini? Suatu hari hati saya menggebu-gebu karena bersemangat saat mulai sedikit memahami “for better for worse” atau “’till death do us part” dan kalimat heboh lainnya.Ingin hati menuliskannya di blog, dan taraaa, di depan laptop pun saya sekarang malah termangu. “Waktu itu apa yaa..”

Dan bahwa hal-hal sepele semacam materi dan fisik (eh mirip ya) ternyata menjadi tidak penting ketika dihadapkan dengan cinta. Bahkan hal-hal yang lebih prinsipil semacam agama pun ternyata terkalahkan. Well, tidak seekstrim itu sih untuk saya pribadi, tapi maksud saya perbedaan dalam hal agama (bukan beda agama, walaupun itu jg termasuk) ternyata juga menjadi hal sepele. Huah, hebat kan cinta itu.

Agama saya mengajarkan bahwa cinta sebelum pernikahan bukanlah cinta. Kemungkinan besar rasa itu adalah hawa nafsu. Nah lho, jadi apa arti semua ini dong? Maksud saya, semua perasaan yang intinya adalah “aku rela mati demi kamu” yang diucapkan oleh seorang yang belum menikah, kepada seorang yang (katanya) dicintainya?

Terlepas dari kata agama saya itu, saya sekarang percaya bahwa semua orang akan menemukan jodohnya. Cepat atau lambat. Jadi memang tidak bisa dipaksakan. Ah kan, topik saya semakin menyimpang.

Ya, jadi sebelum saya benar-benar kehilangan arah dalam menyelesaikan sebuah tulisan tentang cinta ini, maksud saya menulis judul demikian adalah, di balik pernikahan memang tertancap sebuah keagungan bernama cinta, yang sebenar-benarnya cinta. Maksud saya, idealnya sih begitu. Sehingga memang pernikahan adalah suatu yang sakral, istimewa, sekali seumur hidup, dan memang benar-benar dinantikan. Dan ketika cinta itu datang, maka keinginan menikah yang ikut datang juga adalah suatu hal yang wajar kan?

Jadi menurut saya marriage is divine. Yes it is.

Advertisements

One thought on “The Divine Message of Marriage

  1. umm.. are you sure you didn’t confuse love with marriage? for me they seem quite different…
    at least, in some (or most?) cases, the one is not prerequisite for the other to happen.. Sad case, indeed. But exist, I believe. 😦
    Ah.. Why do I sound so pessimistic? We shouldn’t give up our hope, right? hope for a divine marriage with ever lasting love, straight to heaven.. (ah, now let people call me naive, by believing such thing..)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s