Edukasi Oh Edukasi

Edukasi: nama lainnya penyuluhan.

Bukan tentang pendidikan, wajib belajar, apalagi kebijakan pemerintah tentang beasiswa. Ini edukasi pasien. Pasien harus diedukasi. Dokter wajib memberikan edukasi kepada pasien. Pasien apapun, siapapun, harus diberikan edukasi.

Edukasi meliputi penjelasan tentang diagnosis, pemeriksaan, dan penatalaksanaan penyakit. Oh, dan pencegahan bila memungkinkan. Intinya apapun tentang semua yang harus diketahui pasien dan keluarganya. Semuanya.

Nah, edukasi yang merupakan bagian dari soft skill dokter ini ternyata tidak mudah untuk saya yang emosional. Huhh.. Saya hampir selalu terbawa emosi ketika menginginkan yang terbaik untuk pasien, namun pasien tidak kooperatif. Terkadang saya harus sedikit membujuk untuk membuat mereka mau mendengarkan penjelasan saya.

Setelah saya menjelaskan, misalnya suatu tindakan yang sebaiknya dilakukan untuk (ekstrimnya) menyelamatkan pasien, mereka pun belum tentu menyetujuinya. Tentu banyak alasan yang mendasari mengapa mereka cenderung menolak

tindakan. Namun intinya adalah saya terlalu ngotot bahwa pasien seharusnya menurut saja. Manut. Kenapa sih menolak. Saya sering tidak habis pikir. Kemudian saya menjadi terganggu dengan itu, dan sering tampak emosional.

Saya tahu, semua keputusan ada di tangan pasien dan keluarganya. Dokter hanya bisa menjelaskan semuanya sehingga mereka berhak memilih. Namun bagi saya, sebagai calon dokter, saya merasa harus mampu mempengaruhi keputusan pasien, karena toh keputusan yang berdasarkan keilmuan saya itu adalah yang terbaik. Saya sering menganggapnya sebuah pertempuran, atau minimal sebuah lomba debat dengan mosi ‘akan dilakukan suatu tindakan’ dan saya selalu berusaha untuk menang. Saya harus menang.

Dan ketika saya kalah, saya merasa lemah, tak berdaya. Saya merasa gagal. Saya merasa ilmu di kepala saya gagal mencapai kepala pasien dan keluarganya, dengan satu alasan teknis: kegagalan komunikasi yang saya lakukan. Saya benci itu.

Jadi, saat ini setelah lebih dari setahun menjalani koas, ternyata hanya sedikit hal yang sedang saya usahakan untuk kuasai, salah satunya soft skill ini, yaitu edukasi pasien. Walaupun sedikit, ternyata yang sedikit itu pun tidak mudah bagi saya.

Harus terus berjuang. Belajar. Harus semangat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s