Equator: Indonesia. Sebuah Tinjauan

Keluargaku berlangganan tv kabel setiap bulannya. Di dalamnya ada saluran bernama BBC Knowledge, yang saat ini telah aku nobatkan sebagai saluran tv favoritku. Suatu hari aku menonton acara yang berjudul Equator,

dan saat itu aku beruntung karena menonton episode pertama.

Saat memilih saluran, keputusan untuk bertahan menonton acara ini adalah bahwa pembawa acaranya ganteng! Setelah mencari di internet, ternyata Equator hanya
punya tiga episode. Episode terbaik tentu saja: Equator: Indonesia!

Entahlah, buatku, menonton acara di tv kabel buatan luar negeri mengenai Indonesia hampir selalu menarik.

Contohnya di saluran Animal Planet, atau Discovery Channel, atau National Geographic. Kebanyakan sih tentang alamnya, terutama hutan hujan di Kalimantan (Borneo, kata mereka), atau keindahan dasar laut di Bunaken. Namun ternyata acara tv Equator yang satu ini agak lain. Acara ini menceritakan tentang si pembawa acara yang berkeliling dunia di sepanjang garis khatulistiwa.

Di episode pertamanya di Afrika, dia menjelajah daratan Afrika dengan segala keindahan dan kesengsaraan di sana. Negara di ujung timur Afrika yang terakhir dilewati garis khatulistiwa adalah Somalia tapi tidak dikunjungi karena sedang terjadi konflik antarsaudara. Walhasil, tempat terakhir di Afrika yang dikunjungi di episode perdana itu adalah Etiopia yang berbatasan langsung dengan Somalia. Rupanya tepat di garis perbatasan kedua negara itu, terdapat kamp pengungsian warga negara Somalia yang mencari perlindungan dari konflik yang terjadi. Seorang wanita muslimah berjilbab lebar bernama Fatimah yang berumur 23 tahun menjawab pertanyaan dengan bahasa Inggris yang lancar. Dia mengaku tidak ingin meninggalkan tanah kelahiran tercintanya di Somalia sehingga dia menunggu dengan sabar di kamp pengungsian sampai konflik mereda. Selain itu, para penduduk Somalia kesulitan mengurus surat-surat semacam KTP, paspor, apalagi visa, yang memungkinkan mereka ke luar negeri untuk mencari penghidupan yang lebih baik.

Episode kedua adalah perjalanan di Indonesia. Seingatku ada lima pulau yang dikunjungi: pulau kecil di ujung barat Sumatra, Sumatra (hanya Padang dan Bukittinggi), Kalimantan (Taman Nasional yang menangkar orang utan, Palangkaraya [atau Sampit, aku bingung]), Sulawesi (Palu dengan konflik Posonya dan Gorontalo), dan pulau kecil di selatan Gorontalo yaitu Pulau Togean. Sebenarnya pulau terakhir yang dilewati oleh garis khatulistiwa adalah Halmahera.. Sayangnya pemerintah Indonesia, pada waktu itu tahun 2006, melarang para kru untuk mengunjunginya karena di situ ada konflik juga.

Yang aku suka dari acara tv luar negeri tentang Indonesia adalah fakta-fakta menarik yang jarang aku perhatikan saat tv dalam negeri mengungkapkannya juga (entah karena aku tidak mendengarkan atau memang tidak diceritakan). Equator menceritakan bahwa Sumatra adalah salah satu tempat dengan prevalensi flu burung yang tinggi. Bahwa ternyata sate padang tidak terlalu disukai oleh si pembawa acara (ya iyalah, Bule don’t eat jeroan!). Bahwa Kalimantan adalah tempat dengan hutan hujan yang indah namun sayang banyak penebang liar yang memangkas habis hutan demi mengadakan perkebunan kelapa sawit. Palangkaraya menyimpan kenangan tentang tragedi Sampit di mana pemenggalan kepala terjadi di mana-mana. Suku Dayak mengangkat si pembawa acara menjadi anak mereka, dengan kewajiban hanya berupa “mengingat kami seumur hidupmu.”

Equator juga mengungkap bahwa Kota Palu berisi puing-puing sisa konflik Poso, di mana umat muslim dan Kristiani saling menyerang. Seorang muslimah janda (karena suaminya dibunuh pada waktu konflik tersebut) mengungkapkan bahwa “setelah konflik itu, aku jadi benci orang kristen” ketika diwawancarai. Bahwa Pulau Togean yang terletak di selatan Gorontalo sangatlah indah. Mata pencaharian utama penduduk asli adalah berburu hasil laut. Para bapak dan anak laki-laki mereka menyelam untuk menangkap anemon laut, bunga karang, atau ikan-ikan cantik untuk dijual. Para penyelam ini mampu bertahan 5 menit di dalam air tanpa bernapas. Hebat, kata sang pembawa acara. Seharusnya mereka dibekali dengan tabung oksigen agar pekerjaan lebih efektif sehingga pendapatan daerah meningkat. Namun mungkin tabung oksigen malah akan meracuni mereka, jawab salah seorang penduduk. Bahwa di Gorontalo terjadi banjir dengan ketinggian air mencapai pinggang si pembawa acara, berarus, dan berpenyakit.

Sedih rasanya mengetahui bahwa kesimpulan dan kesan dari acara Equator: Indonesia adalah Indonesia penuh dengan penebangan hutan yang liar, konflik antarsuku dan antaragama. Oh, tentu saja, Indonesia adalah tempat yang sangat indah. SANGAT indah. Lagi-lagi aku membutakan mata dan berpendapat bahwa bagaimanapun, acara tv luar negeri yang meliput Indonesia selalu tampak lebih indah. Apa mungkin karena pengaruh kamera (dan mungkin cameraman) yang lebih bagus dibandingkan dengan milik program tv dalam negeri?

Sedih juga diingatkan lagi bahwa “Indonesia adalah negara dengan penebangan hutan liar terbesar di dunia.” Dan bahwa di seluruh dunia, orang utan hanya tinggal 6.000 spesies, tidak lebih! Aku tidak bisa lagi sombong, ketika para pegawai di Taman Nasional yang merawat orang utan itu dengan penuh kasih sayang memberi makan para bayi orang utan, mengajak mereka jalan-jalan ke hutan liar untuk pengenalan, dengan harapan saat mereka besar bisa hidup bebas di alam liar. Walaupun belum tahu apakah luas hutan hujan masih bisa dipertahankan seperti sekarang atau bahkan ditambah.

Episode yang membahas Indonesia ini begitu memukau. Pada menit-menit pertama aku terharu akan keindahan alam berupa pantai, nyiur, bakau, dan bahkan rumah panggung yang ditampilkan di layar kaca. Namun pada akhirnya aku merasa sedih dengan kenyataan bahwa aku hidup di zaman penebangan hutan liar, konflik antarsuku, konflik antaragama, dan yah, wabah flu burung. Itukah yang akan aku tinggalkan untuk anak cucuku? Cerita bahwa dulu manusia di zamanku hobi menebang secara liar serta berkonflik?

Banyak yang dipetik hanya dari tiga episode Equator ini, kata para jurnalis. Mereka merangkum banyak poin, namun di sini hanya aku tunjukkan beberapa fakta tentang khatulistiwa (diambil juga dari sini):

  • The region has the world’s greatest concentration of human poverty and natural biodiversity.
  • Almost half the world’s rainforests are concentrated on the equator in just three countries: Brazil, Congo and Indonesia.
  • The Sun – in its seasonal movement – traverses directly over the equator twice each year, on the spring and vernal equinoxes.
  • Locations along the equator experience the fastest rates of sunrise and sunset on the planet. The transition from day to night takes only minutes.
  • The lengths of day/night time vary very little, while more northerly and southerly locations can vary enormously.

Hehe maaf malas kuterjemahkan.

Aku ingin Equator bisa dibeli oleh tv dalam negeri untuk disiarkan lagi, dan lagi.. Aku ingin semua orang bisa menontonnya, sehingga bisa ikut mengingat kembali bahagianya hidup di alam Indonesia. Dengan demikian, setidaknya sedikit saja, tumbuh rasa cinta pada tanah kelahiran. ACI! Aku Cinta Indonesia!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s