A Fine Line between This and That*

Stase neurologi, bukannya belajar pemeriksaan fisik, stroke, epilepsi, cedera medula spinalis.. Saya malah belajar alias mengamati bagaimana menentukan inilah saatnya mengutamakan kualitas hidup daripada kuantitas hidup; betapa waktu yang sedikit tapi bermakna lebih penting daripada hidup lama yang menyengsarakan. Bagaimana memastikan bahwa kita hanya bisa berdoa karena usaha sudah mencapai tingkat maksimal. Betapa saya melihat proses deteriorasi yang cepat, dari sehat menjadi sebuah hendaya besar.

Bahkan saya banyak belajar dari pasien. Saya tau, kalimat ini merupakan kalimat favorit koass dan semua calon dokter, “Pasien-pasien adalah guruku,” benar sekali! Bahkan juga belajar dari keluarga pasien. Mulai dari keluarga yang kooperatif, sampai yang sangat skeptis terhadap dokter (dan terpaksa ke RS karena mentok).

Ketika kita bilang ini sudah tidak bisa diperjuangkan, Allah berkehendak lain. Suatu hari ada seorang pasien dengan stroke perdarahan dibawa ke RS dengan penurunan kesadaran. Beberapa hari di RS, nafasnya semakin berat. Maka setelah diputuskan, pasien ini butuh dipasang airway definitif alias endotracheal tube. Waduh… artinya butuh ventilator, yang sangat jarang tersedia di ICU karena RS tempat saya belajar adalah RS favorit, sangat banyak pasiennya!! Walhasil ventilator itu tetaplah harus ada apapun yang terjadi. Maka ventilator digantikan oleh kami sang koas jaga. Yup, kami menjadi manual ventilator (versi saya), melakukan bagging (versi khalayak umum).

Selama 24 jam jaga itu, saya 3 kali bagging: sore, tengah malam, dan subuh. Bisa dibayangkan ngantuknya. Yah mungkin tidak terlalu mengantuk, tapi melakukan hal yang ritmis selama tiga kali dua jam sama dengan menginduksi kebosanan tingkat tinggi. Bicara soal filosofi, bagging adalah suatu tindakan penyelamatan nyawa. Bicara soal prakteknya, huah sungguh membosankan.

Jadilah saya tertunduk-tunduk di depan pasien yang napasnya sudah satu-satu. Tertunduk dan terpejam. Ngantuk!! Sementara keluarga pasien yang duduk mengelilinginya; suami, anak, dan anak, sibuk membaca QS. Yasin dan ayat-ayat lainnya dengan lantang namun sejuk. Mendamaikan hati. Mengharukan qalbu. Sayangnya kurang mampu membangkitkan pusat kesadaran di otak saya.

Beberapa waktu berlalu, tunduknya kepala saya semakin parah. Saya langsung berdiri, sambil tetap memompa. Bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri, berharap mobilitas saya membangkitkan korteks otak saya. Beberapa menit, kemudian tertidur lagi. Iya, sambil berdiri. Teringat masa SMA, upacara bendera minimal 2 jam membuat saya menjadi seorang praktisi tidur berdiri. Hehe.. Akhirnya sang ayah alias suami pasien tidak tahan, “Sini mbak saya gantiin, mbak istirahat saja,”

“Ah enggak pak. Hadoh maaf ya pak saya malah ketiduran..” saya membantah, berusaha melek, dan terus memompa.

Bacaan ayat-ayat suci Al Quran terus berkumandang dari orang-orang yang tidak sedikit pun mengantuk itu; ayah, anak, dan anak. Saya? Di sebelahnya, tertunduk tidur beberapa detik sekali. “Sini mbak, saya saja. Sudah jam 1.30 lho, tadi katanya digantikan temannya jam 1? Mana, atau saya telponkan?”

Saya menolak lagi, “Sebentar lagi juga datang kok pak,” dan tertidur lagi. Di depan mata mereka.

Seakan tanpa lelah, seakan saat itu adalah pagi hari di mana matahari bersinar hangat dan bukannya tengah malam yang banyak nyamuk dan senyap, mereka terus berdzikir, membaca, menghayati…

“Orang tua kehabisan nafas bisa-bisanya kamu tidur. Itu orang lain yang bukan siapa-siapa aja melek!” sang ayah membangunkan anaknya yang tidak sengaja tertidur di sebelah saya, sambil menunjuk saya, orang-lain-yang-bukan-siapa-siapanya. Jleb, serasa merambat naik ke batang otak saya, suara ayahnya itu menohok, membangunkan saya. Aduh malunya saya yang lebih sering tertidur dibandingkan anaknya.

Hingga matahari terbit lagi esoknya, si pasien masih bertahan dengan napas satu-satunya. Siangnya pasien dipindah ke ICU dengan ventilator mekanik; Allahu Akbar. Baik untuk pasien karena bagaimanapun ventilator manual seperti tangan-tangan lemah kami tidak akan memberikan tekanan yang stabil pada paru pasien. Baik pula bagi kami yang artinya kami tidak perlu terkantuk-kantuk memompa. Sungguh egois, tapi memang itulah kalimat syukur kami.

Hari ini ingin sekali saya mampir ke ICU hanya untuk berucap terimakasih kepada keluarga pasien, betapa sabar dan tabahnya mereka. Memang Allah yang menentukan usia. Terus berdzikir dan berdoa mengiringi ibunda dan istri yang berjuang dengan napasnya yang terengah, dengan perdarahan masif di otaknya, bukan sebuah usaha menentang takdir. Apapun hasilnya, mereka selalu mengingat Allah, mendoakan si sakit. Bukan agar sembuh, melainkan agar Allah mendengar doa dan tangis mereka, sehingga memberi ketabahan di hati mereka; masihkah diizinkan bertemu dengan sang ibunda/ istri atau memang yang terbaik adalah berpulang. Sampai hari itu saat sang pasien dipindah ke ICU, Allah menunjukkan kuasa-Nya, bahwa memang belum saatnya untuk pulang, mungkin harapan untuk bertemu dengan keluarga masih ada.

Doa dan tangis mereka pun menembus hati saya, sang koas yang kebetulan jaga malam itu, yang terkantuk-kantuk dengan pompa napas di tangan. Semoga Allah memberikan ampunan padamu, ibu. Semoga Allah melimpahi kesabaran yang tiada putus untukmu, wahai ayah dan anak dan anak.

*masih bingung judul postingnya enaknya apa. Judul ini ngambil dari lirik Linkin Park, With You.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s