Go Abroad?!

Seperti biasanya, jiwa jurnalis saya menggedor nurani, memaksa saya menuliskan sekelumit kisah CO-ASS CORNER: MELIRIK PELUANG BEASISWA KE LUAR NEGERI, yang diselenggarakan oleh kakak kelas-teman sejawat, Jumat lalu 8 Mei 2009 di gedung Diklit RSDK dengan pembicara dr. Yetty Movieta, Sp.A.

Kali ini saya tidak berminat membahas rinci tentang apa yang terjadi pada acara talk-show itu, tidak pula tentang rincian materi yang disajikan dengan menarik oleh sang pembicara. Saya ingin mengulas pengalaman emosi yang saya rasakan secara pribadi mengenai acara ini.

Ada beberapa alasan kuat mengapa kita harus belajar ke luar negeri. Saya pribadi merasa alasan-alasan tersebut tidak perlu lagi diungkapkan karena sudah terlalu sering terngiang di kepala saya, sejak masa SMA dulu. Ya, sudah beberapa tahun saya bermimpi mendapat beasiswa ke luar negeri. Namun ada satu alasan yang cukup membuat saya terbakar api semangat. Alasan itu diungkapkan dr. Yetty, bahwa

Dokter itu setingkat S2 sehingga kalau mau sekolah ke luar negeri ya ambil PhD.

Kalimat itu begitu dalam menembus pikiran, begitu sejuk mengalir di dada, begitu terang menyilaukan sehingga membuat saya tersenyum lebar beberapa detik. Beberapa peserta yang hadir pastilah sudah pernah mendengarnya sehingga mereka tampak tenang-tenang saja. Namun tidak bagi saya. Kalimat itu jelas merupakan batu loncatan untuk mengubah impian saya, dari keinginan untuk melanjutkan S2 menjadi keinginan untuk melanjutkan S3 (alias PhD).

Saya pernah mendengarnya sih. Itu cerita di sekitar saya, bahwa ada seorang saudara yang begitu hebat dan menginspirasi. Setelah lulus dokter dia ditawari menjadi staf di sebuah bagian di fakultasnya (dan dia menerimanya), kemudian mendapatkan kesempatan melanjutkan PhD ke sebuah negara maju.

Tetap saja, kalimat dr. Yetty lah yang menjadi justifikasi bahwa memang dokter diakui setingkat lulusan S2.

Mengenai residensi atau PPDS di luar negeri tidak terlalu dibahas dalam acara ini. Saya pun setuju, karena perlu program penyetaraan baik untuk mulai belajar ke luar negeri maupun nanti ketika kembali ke Indonesia. Kesempatan beasiswa pun jauh lebih sedikit dibandingkan jika mengambil master atau doktoral. Bahkan negara maju (contoh negara-negara Eropa seperti Jerman dan Belanda) yang menggratiskan biaya kuliah di universitasnya pun tidak menyediakan beasiswa untuk spesialisasi. Oya, apabila kita diterima di universitas di negara maju yang saya sebutkan itu, beasiswa yang harus kita cari adalah beasiswa untuk biaya hidup kita, bukan biaya pendidikan. Kan kuliah gratis….

Belajar ke luar negeri bisa dimulai dengan mengikuti workshop atau short course. Dari situ kita bisa mulai mencari-cari peluang untuk melanjutkan. Adapun peluang beasiswa untuk workshop atau short course tersedia cukup banyak di internet asal kita rajin mencari.

Dari niat untuk menjadi lebih baik dengan belajar ke luar negeri, dr. Yetty melanjutkan dengan memaparkan cara-cara mendapatkan informasi bahkan beasiswa ke luar negeri. Ada beberapa cara, misalnya dengan membuka situs penyedia beasiswa dari negara tertentu (berarti kita harus menentukan negara yang diinginkan) atau masuk ke situs universitas (ini lebih spesifik lagi. Undip mempunyai link ke Belanda atau Jepang, setahu saya). Untuk beasiswa di negeri Belanda, kita bisa pilih nuffic atau NEC, atau stuned. Sedangkan untuk Jerman, kita bisa ke DAAD, atau di Australia kita bisa melirik AusAID. Sedangkan kalau kita memilih universitas, kita bisa langsung masuk ke bagian job opportunities atau vacancy, kemudian cari adakah lowongan pekerjaan untuk asisten penelitian Profesor atau apapun. Dari situ kita bisa berkenalan dengan profesor, bahkan bekerja padanya, yang kemudian bisa membuka peluang mendapat beasiswa untuk menjadi kandidat doktor di universitasnya.

Pemenuhan persyaratan pun tak kalah pentingnya. Standar sajalah, seperti TOEFL. Saya pun tak ingin berkomentar di sini. Di Semarang, Institutional Testing Program untuk TOEFL (TOEFL ITP) bisa diambil di CLT di jalan Menteri Supeno.

Masih banyak teknis persiapan yang harus kita mengerti jika ingin mendapat beasiswa ke luar negeri, mendaftar, dan berangkat. Seperti mengirim semua berkas yang dipersyaratkan lebih awal sehingga apabila masih ada yang kurang maka bisa segera dikirimkan. Khusus untuk program PhD, proposal penelitian yang menjadi syarat mutlak haruslah orisinil dan dengan timeline dan budget yang realistis. Daftar riwayat hidup atau CV pun perlu dibuat dengan benar. Publikasi ilmiah merupakan nilai tambahan yang akan sangat dipertimbangkan. Sedangkan pengalaman menjadi panitia acara ini dan itu di kampus, menurut dr. Yetty, kurang relevan.

Wawancara yang umumnya merupakan tahap akhir seleksi juga harus dipersiapkan. Menurut beliau, kita harus lancar dan cepat dalam berbahasa Inggris. Menurut saya sendiri, yang sudah menjalani dua kali tes wawancara untuk beasiswa ke luar negeri dan gagal, jangan mencoba-coba untuk berbohong. Katakan apa adanya, apa yang menjadi tujuan kita, siapakah diri kita, apa yang kita inginkan. Hiperbolisme pun tidak ada gunanya. Memang ‘menjadi mengesankan’adalah perlu, asal tidak berlebihan.

Sesi tanya jawab tentulah menjadi saat yang ditunggu-tunggu. Beberapa peserta bertanya ini dan itu. Termasuk saya. Begitu seru, begitu menambah wawasan. Pertanyaan saya sih mengenai pengalaman pembicara sendiri. Ternyata dr. Yetty mengambil PhD mengenai onkologi anak, dengan topik disertasi yaitu cost-effectiveness dalam terapi leukemia. Beliau mengambil program doktornya tepat ketika lulus menjadi spesialis Anak dan sudah menjadi staf pengajar di Undip. Karena beliau sudah berkeluarga, program sandwich lah yang dipilih. Jadi beliau bolak-balik Indonesia-Belanda untuk menyelesaikan studinya.

Sang pembicara menekankan perlunya menjalin (atau mulai menjalin) hubungan yang baik dengan profesor di Universitas dari luar negeri. Terkesan mustahil, namun benar adanya. Beliau pun mendapatkan kesempatan belajar ke luar negeri melalui cara tersebut. Seorang profesor dari sebuah universitas di Belanda datang berkunjung. Maka beliau bersikap asertif dengan mengungkapkan keinginan untuk berguru pada sang profesor, dan menindaklanjuti hubungan yang telah dijalin.

Saat itu saya jadi ingat suatu kejadian yang menurut saya keren. Pada saat ada kunjungan seorang profesor dari Belanda (memang negara favoritnya Undip ya), seorang dosen muda yang beberapa jam sebelumnya mengantarkan sang profesor dan memberi penjelasan mengenai kegiatan yang sedang diamati, diberi kartu nama dan dikatakan, “ini buat kamu, kalau sewaktu-waktu kamu mempertimbangkan untuk meneruskan PhD ke Belanda”. Wow, semudah itu? Saya membayangkan, apabila pak dosen tersebut tertarik dan menindaklanjuti ‘kalimat penawaran yang terkesan ringan’ itu, bisa-bisa beliau memang langsung mendapat surat rekomendasi dari sang profesor, yang merupakan surat sakti untuk diterima di universitas, dan bahkan mungkin mendapat sponsor untuk beasiswa.

Demikianlah, tiada yang mustahil. Man jadda wa jadda. Apabila kita benar-benar menginginkannya dan bersungguh-sungguh, pasti ada jalan. Kira-kira itu pula yang ditekankan sang pembicara dalam acara ini.

Hm, acara co-ass corner selanjutnya apa topiknya, ya?!

***

Hm, masa SMA dulu saya sempat mendapatkan ceramah mengenai bahayanya tinggal di negara dengan mayoritas penduduk yang bukan muslim. Saya tidak ingin menyerang pihak tertentu, terutama orang-orang yang saya kagumi seperti sahabat, saudara, dosen, atau kakak kelas yang telah sukses bersekolah ke luar negeri. Mereka justru menginspirasi saya. Mereka contoh orang-orang hebat. Bukan, saya tidak ingin demikian. Saya yakin mereka adalah orang-orang dengan iman kuat yang tidak akan terganggu keislamannya (bila muslim) selama di negeri asing sana. Namun saya? Saya sungguh mengkhawatirkan diri saya sendiri, betapa sendiri di negeri orang tanpa ‘penjaga iman’ pastilah sungguh berat. Ya kalau saya mampu tetap dalam cahaya keimanan. Kalau saya terpengaruh lingkungan dan melupakan sifat asli saya sebagai seorang muslim? Maka sebenarnya pertanyaan terbesar saya yang berkaitan dengan topik artikel saya ini adalah, “mungkinkah mengambil program doktoral (PhD) di negara yang mayoritas penduduknya muslim, sehingga saya bisa mewujudkan impian saya tanpa perlu mengkhawatirkan agama saya, dan bagaimana caranya?” Bahkan saya tak tahu negara mana saja itu, dengan universitas kelas dunia; di Mesir, atau Turki, atau Malaysia, atau mana? Yang saya pernah tahu hanyalah negara itu-itu saja- yang maju dan berpendidikan maju-Jerman, Belanda, Inggris, Jepang, Australia, AS, Perancis… Tidak bisakah kita berpindah idola ke Mesir, atau manalah, yang banyak muslimnya?! Saya yakin mereka tidak kalah majunya dengan negara Eropa atau yang telah saya sebutkan tadi. Atau memang kalah?

Kegelisahan tetaplah kegelisahan. Apabila ada tawaran beasiswa ke suatu negara di manapun, tetap saja, sangat mungkin, saya akan mendaftar.

Semangat!

Advertisements

4 thoughts on “Go Abroad?!

  1. dai..minta ijin ya..halaman yg ini ku-link di message facebook, semoga bermanfaat buat temen2 yg ga bisa dtg di coass corner kmrn.. smgt ya!

  2. dai… numpang komen ya 🙂
    mengenai negara tujuan, kalau yang mayoritas muslim sih aku kurang tahu. tapi kalau tidak salah, belanda tergolong netral mengingat jumlah atheis yang berkembang di sana -_-” prancis juga bisa jadi pilihan karena terkategori netral 🙂
    negara2 asia timur juga layak untuk dipertimbangkan tuh.. ^^

    all the best!

  3. Mbak, komen dikit yah.. ^^

    Soal spesialisasi di negeri orang, ada kok negara yg ngasih beasiswa spesialisasi gratis. Aku ketemu konsulen anestesi dari Unpad, beliau lulusan Univ St. Thomas, Filipina. Beliau sekolah disana selama 3 tahun, n gratis… Tapi, apakah filipina masuk kategori negara pilihanmu? 😀 Dan soal penyetaraan, aku g tau… tapi pas jamannya beliau sih g ada.

    Um.. soal negara non muslim, no comment! Milih negara muslim sih boleh aja, toh ada juga yg keren (tapi kita harus liat juga universitasnya….). Tapi, mengutip salah satu judul blog mu, we ‘simply grow up’ dengan ujian. Dan belajar di negeri non muslim adalah salah satu ujian juga, bagi keimanan kita….

    Semangat n sukses!! Kutunggu PhD mu.. 😀

  4. Spot on with this write-up, I absolutely feel this web site needs a great deal more attention. I’ll probably be returning to read more,
    thanks for the information!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s