Curcol

Baru denger istilah curcol. Alias curhat colongan. Ketika beberapa orang sedang ngomongin ‘udara hari ini cerah ya’, tiba-tiba salah satu dari mereka ada yang bilang, ‘tau gak, aku pengen nangis soalnya sahabatku nyuekin aku’. Dan orang terakhir itu sedang curcol namanya. Oalah, aku bingung dengan adanya istilah itu karena KUPIKIR SEMUA ORANG MELAKUKANNYA. I thought it’s okay to share our feelings to random people around us.

Yup, tepat sekali, akulah sang curcol, yang baru sadar kalo aku sering curcol. Benar-benar disadarkan oleh adanya istilah itu di dunia ini. Akhir-akhir ini seorang teman bilang kalau aku sangat terbuka, mudah menceritakan rahasia pribadi ke teman yang gak terlalu dekat.

Tiba-tiba jadi ingat, seorang teman lainnya pernah bilang kalau aku berlebihan bercerita ke orang lain yang baru kenal, yang belakangan sedikit menimbulkan masalah (tapi bukan itu poinnya untuk saat ini).

Oalah, sekarang aku menemukan benang merahnya. Dua temanku benar. Simply saying that I am an extrovert, a talker, a leaked pail….

***

Akhir-akhir ini aku bingung dengan sikap seorang temanku (yang cukup dekat), agak berubah. Kayak lebih menghindariku. Atau berkurang senyumnya. Mungkin aku terlalu demanding, tapi aku jadi takut. Jangan-jangan karena aku berbuat suatu dosa yang melukai hatinya tanpa kusadari (tipikal orang dengan gangguan kepribadian.. lihat halaman saya [2])?

***

Dengan semena-mena aku menggeneralisasi bahwa hubungan pertemanan atau persahabatan (atau perpacaran, ku tak tahu) antara dua orang pastilah ada yang di atas ada yang di bawah. Ada yang dominan ada yang resesif. Ada yang berbicara ada yang mendengar. Bukan dua-duanya. Bukan fifty-fifty. Bukan timbal balik, bukan resiprokal.

Kesimpulan itu aku buat karena aku pernah menjadi sang pendengar. Temanku satu itu selalu datang kepadaku untuk bercerita. Aku menikmatinya. Tapi suatu saat dia memintaku gantian cerita. ‘Lha kamu ga pernah stop bercerita’ keluhku dalam hati.

Aku pun pernah jadi sang pembicara, bukan pendengar. Dan temanku yang pendengar itu tampak menikmatinya, sangat berempati, dan menyenangkan sebagai tempat curhat. Suatu saat aku berbicara dalam hati, ‘Lha kamu gantian cerita dong’ tapi aku merasa aku termakan omongan sendiri. Jelas aku pernah merasakan di posisinya, jadi aku tahu jawabannya.

Tapi apa artinya, satu predator satu mangsa? Agar menjadi rantai makanan??! Tapi hanya dua komponen, tanpa adanya decomposer, akankah bertahan lama?

Bukankah lambang persahabatan dan cinta adalah sepasang merpati, yang saling melengkapi? Spesies yang sama, mampu terbang tinggi bersama karena punya sayap?

***

Aku gak peduli postinganku kali ini cukup campur aduk. Akhir-akhir ini sedang terlepas dari orang-orang yang terbiasa dekat denganku, dan terikat dengan orang-orang yang baru kukenal. Cukup menyegarkan, ternyata.

***

Aku kagum pada orang-orang profesional yang mengerjakan sesuatu yang dia benci. Yang menyegerakan sesuatu yang sangat ingin dia tunda. Yang memiliki ketenangan dalam ketergesaan.

Yeah, pagi ini aku sangat kacau. Bangun jam 5, belum menyelesaikan tugas Obgyn. Jadilah aku mulai mengetik, dan mengetik. Itu pun harusnya kemarin malam. Tapi aku memilih tidur. Ketikan belum selesai, waktu sudah setengah 7. Jadi deh aku gubrak-gubrak bersegera siap-siap. Sampai rumah sakit, beruntung aku gak telat. Tiga menit lagi matilah aku.

Aku merasa sangat bersalah, kenapa aku mengulangi hal yang sama: 1. memilih tidur daripada menyelesaikan kewajiban, 2. gagal memprioritaskan. Harusnya ketikan ditinggal, toh gak bakal selesai. Jadi mending siap-siap dan naek motornya gak perlu ngebut. Tugas bisa dikerjakan paginya di poliklinik (yang sepi itu..), kan bisa. Prioritas!

My unprofessional-ism di atas jelas mengganggu karirku di masa depan kalau dilanjutkan. Sementara teori kepribadian mengatakan bahwa kepribadian bisa berubah jika dan hanya jika ada: 1. katastrop, atau 2. kejadian luar biasa yang mempengaruhi kehidupan seseorang yang menjadi ‘terapi renjatan’ alias ‘shock therapy’ alias bikin kapok.

Tapi emangnya ketidakdewasaanku yaitu menunda dan gangguan prioritas itu udah jadi kepribadianku ya? Semoga belum, amin…

***

Advertisements

3 thoughts on “Curcol

  1. curcol yaa….
    you are not alone..
    aku juga sering dibilang ember bocor… gampang dkt sama orang yang baru knal n cerita2..
    tapi efek buruknya ya itu…
    karena terlanjur dekat sebelum terlalu mengenal… pas tau dy ternyata “begini” dna “begitu” jadinya perang batin..
    mo didiemin.. ak g tega..
    mo dibilangin.. tapi kan prinsip yang dy pegang membolehkan hal2 itu…
    haduh.. curcol beneran deh…

  2. wahhhhh, saya beruntung baca postingan ini
    it defines my feeling right now.
    i don’t feel i’m alone no more!
    i mean i’m not an alien yet 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s