Di Bantir

[This is an old post, it was written in February 2008 maybe. Not sure.]

Sebagai anggota tim medis yang bertugas di sebuah acara pelantikan Pramuka, Paskibar, PKS, dan PMR sebuah SMA unggulan di suatu desa di lereng gunung yang dingin, aku merasa sangat beruntung. Saat ini aku merasa bisa mempraktikkan apa yang kupelajari saat kuliah.  Aku merasa inilah saat belajar yang sesungguhnya. Sayang rasanya, kalau aku tidak menuliskannya, sekedar untuk dibaca-baca nanti ketika sudah jadi dokter, atau kapanpun di masa depan.

***

Pasien satu: Seorang anak digotong. Suara napasnya terdengar bertenaga, terutama saat menghembuskan napas. Terdapat kaku di jari tangan dan kaki. Diagnosisnya asma. Terapi dengan duduk nyaman sampai tenang, baru diberi teofilin dan aminofilin (Neonapacin).

Pasien dua: Dismenore pada hari kedua haid diredakan dengan asetaminofen (feminax) dan kompres hangat di perut, tepatnya di bawah pusat. Hangat menyebabkan vasodilatasi sehingga menaikkan suplai darah. Selain itu hangat dapat melemaskan otot dinding perut yang tegang sehingga nyeri berkurang.

Pasien tiga: Seluruh tubuh bergetar, tangan dan kaki kaku, gigi gemeletuk. Apakah ini kedinginan atau hipotermi? Aku tidak tahu pasti. Terapinya adalah dengan melepaskan pemicu dingin yaitu baju basah. Kemudian selimuti.

Pasien empat: Seorang anak datang dengan perut yang sakit akibat telat makan. Antasid 5 menit sebelum menelan roti dapat membantunya. Ada lagi yang pusing, padahal sudah makan! Hm, sedikit potongan roti untuknya kemudian antalgin. Intinya, berpura-pura jadi dokter. Dosakah?

Suatu malam datanglah seseorang yang minta antiseptik betadine (pasien lima). Ternyata dia mengalami lecet. Jadi kuambil kapas dan alkohol, tapi ternyata kapasnya malah menempel di luka. Oh, aku jadi mengerti, yang benar adalah menggunakan kasa, bukan kapas. Baru kemudian diberi betadine. Hmph, dia juga mengeluh pegal di betis. Jadi kuberi saja Counterpain, alias salep analgesik.

Semakin larut, semakin banyak yang datang. Terutama karena kedinginan. Yang harus dilakukan adalah melepaskan pakaian yang basah (terutama kaos kaki), masuk ke dalam sleeping bag, dan tidur.

Pasien ke-sekian belas: Ada seseorang dengan kelainan darah. Entah apa, aku belum bertanya langsung. Dia alergi paracetamol. Saat itu dia capek total, jadi dia merengek minta obat itu. Timbullah ruam kulit kemerahan. Dan dia nekad pergi hiking. Ya sudahlah.

Niken namanya. Leukopenia, katanya. Kaki sakit, sulit digerakkan, tulang nyeri, linu, lemas. Beberapa jam sebelumnya, dia merasa sesak napas dan mual. Karena sesak, dia tidak bisa muntah. Jadi dia memilih pulang supaya bisa bertemu dokternya yang tak lain adalah dosenku sendiri.

Pasien ke-sekian: Ada appendicitis juga di sini. Tapi belum perforasi. Belum operasi. Hm, aku jadi sok tau. Aku segera mendekatinya, dan mengobrol. “Aku pernah, kok” kataku. “Enggak sakit. Aku lebih parah. Udah pecah,” dan seterusnya. Dia tampak lebih tenang.

Dokter bukan hanya orang yang mempraktekkan ilmunya, melainkan juga meraih ruhiah seseorang dan memeluknya, berharap bisa membantu meringankan apapun beban yang dirasakan. Merasa ditemani dan diajak berkomunikasi mungkin cukup membantu. Entahlah, itu menurutku. Sebenarnya dia masih tampak kesakitan sih.

Satu lagi kasus menarik sampai detik ini. Sebuah gejala fisik akibat pengaruh psikis. Begitulah kalimatku untuk menggambarkan kondisinya. Mungkin takut, mungkin malas, mungkin benci. Tahulah, acara pelantikan semacam ini membutuhkan semangat dan mental kuat untuk menghadapi ‘cobaan’ dari para senior. Yang dilakukan oleh pasien-terakhir-kami-hari-ini itu adalah mempercepat napasnya (voluntary tachipneu ^^). Hahaha, aku ingin tertawa. Aku bisa mengenalinya. Jelas sekali. Kemudian dia menggigil dengan sengaja. Mengapa aku tahu itu sengaja? Satu, suhu tangan dan kakinya normal, cenderung hangat. Kedua, tidak ada kaku di jari tangan dan kaki (aku berhasil membandingkannya dengan pasien hipotermi kemarin itu). Ck ck, ketahuan, Dik. Sudahlah, mengakulah….

Aku super duper sebal, sehingga aku berusaha mencuekkannya. Sebal! Aku tidak bisa menyebut apa itu sejak awal kedatangannya, walau aku tahu semuanya palsu, sampai mbak Ririn datang dan menyebut satu kata itu: histeria. Bisa pula menjadi kelainan fisiologis jika psikisnya berpura-pura untuk waktu yang cukup lama.

Satu jam lagi aku akan pergi dari sini. Cukup banyak kasus yang kami temui selama 24 jam ini. Satu hal kecil lagi. Aku tidak melihat satupun pasien di barak kami yang sholat. Khusnudzon bahwa tidak semuanya muslim, dan semua yang muslim sedang berhalangan? Hm, terlalu berharap. Bukan, bukannya sok idealis. Namun masa iya, kami para tenaga medis mengingatkan kewajiban mereka? Atau, masa tidak mau sih, hanya bertanya ‘sudah sholat belum’? Bisa jadi mereka memang harus diingatkan….

Aku jadi teringat dua kata penting yang ingin aku tanamkan dalam hati, “Kedokteran Islam”. Ke manakah semua itu. Katanya dokter harus menjadi contoh?! Katanya kedokteranlah yang harus menyesuaikan dengan Islam, bukan sebaliknya?! Hm… Kehilangan kata-kata nih. Sejauh ini aku bersikap acuh. Tidak peduli. Terserah mau sholat atau tidak, itu urusanmu dengan Tuhanmu sendiri. Sakit bukanlah alasan untuk meninggalkan kewajiban. Bahkan kewajiban itu sudah disertai banyak keringanan. Untuk orang sakit, misalnya.

Mungkin dalam lima belas menit aku akan pergi meninggalkan ‘tempat belajar’-ku ini. Semoga bermanfaat.

*Thanks to Maladica. Miss those moments in Bantir with all friends, mas, mbak, dan adik-adik….*

Advertisements

One thought on “Di Bantir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s