Mlonggo [IKM #3]

Mlonggo, Jepara: Martabak Cinta

Lain Salaman, lain pula Mlonggo. Kami berangkat ke Mlonggo dengan beberapa mobil dan sebuah mobil bak terbuka yang mengangkut enam buah motor. Kami menginap di asrama mahasiswa kedokteran di belakang Puskesmas Mlonggo.

Di hari pertama kami berkenalan dengan orang fenomenal itu, dr. Nurkukuh. Kami sudah cukup mendengar mengenai beliau sebelumnya, dari teman-teman dan kakak kelas kami. Bagaimanapun, perjuangan baru dimulai esok harinya, bukan malam itu.

Serupa dengan di Salaman, kami belajar mengenai manajemen, namun kali ini manajemen Rumah Sakit, yaitu RSUD Kartini. Cari tahu target, bandingkan dengan hasil kegiatan, temukan masalah, bahas masalah, temukan solusinya. Kami bekerja dalam kelompok, berbagi tugas, dan membuat presentasi dan makalah. Pada hari-H presentasi, kami tidak mampu menjawab pertanyaan yang diajukan, dan kami berhasil meyakinkan penguji bahwa kami berbohong! Astaghfirullah, Ya Allah ampuni kami. Memang sebagian data kami didapat dari menyalin makalah teman sebelumnya, dan jika memang sedikit kebohongan pun tidak boleh kami lakukan, maka jadikan ini pelajaran, Ya Tuhanku. Kami dikeluarkan dari ruangan itu.Di luar, saya dan teman sekelompok saya sungguh cemas, jika tidak lulus IKM maka apa yang harus saya jelaskan ke orang tua? Mereka tidak pernah mengajarkan saya untuk berbohong, memalsukan data, bermalas-malasan sehingga tinggal menyalin pekerjaan orang lain tanpa berpikir dan berusaha.

Mungkin dikeluarkan dari ruangan dirasa cukup membuat kami menyesal dan berintrospeksi (memang sih) sehingga kami diperbolehkan masuk dan mengikuti diskusi seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Besok dan besoknya lagi pun tidak ada tanda bahwa kami terancam tidak lulus, dicap buruk, atau semacamnya. Minimal begitulah perasaan saya.

Kegiatan berikutnya adalah kegiatan di Puskesmas yaitu studi kasus. Kami mendapat tema tertentu yang sesuai dengan kegiatan Puskesmas, mengumpulkan data, membahasnya, menetapkan masalah, menganalisis penyebabnya, mencari solusi berupa intervensi, dan melaporkan studi kasus tersebut dalam bentuk makalah yang dipresentasikan pada seminar di hadapan penguji. Saya dan lima teman saya yang lain mendapat tugas berupa ‘Skrining imunisasi Tetanus Toksoid (TT) pada Wanita Usia Subur (WUS)’ di sebuah desa bernama Srobyong. Walhasil selama beberapa hari kami berboncengan naik motor menuju desa untuk melakukan wawancara ke WUS di desa tersebut.

Makalah yang kami susun sembari kami melakukan kegiatan pengumpulan data dan sebagainya secara rutin dicek oleh dosen kami. Kami diwajibkan menyelesaikan bab tertentu setiap beberapa hari, sehingga makalah bisa selesai tepat pada waktunya. Beberapa teman terdahulu menyebutnya ‘malam pembantaian’ sementara saya lebih suka menyebutnya ‘malam penuh cinta’ (saya menghibur diri). Mungkin beberapa orang merasa bahwa cara dr. Nurkukuh dalam berdiskusi malam hari itu tidak bisa diterima, namun saya menganggap beliau bertujuan baik, dan dengan caranya sendiri membuat kami mengingat pelajaran yang diberikan. Sedikit mirip dengan seorang dosen fenomenal lainnya di kampus, yang idealis dan kontroversial (sepertinya lebih banyak yang pro daripada kontra, dan yang jelas beliau berhasil membuat kami terkesan dengan beliau dan ilmu yang diajarkan). Salah satu dari banyak pelajaran yang saya dapatkan dari dr. Nurkukuh adalah bahwa pendidikan itu yang penting prosesnya. Apabila kamu berusaha mencari tahu sendiri, maka pengetahuan itu akan bertahan lebih lama dibandingkan apabila kamu hanya diberi tahu, disuapi saja tanpa berusaha.

Suatu malam saat diskusi, kami diberitahu bahwa pada hari Minggu akan ada kunjungan dari Belanda untuk melihat kegiatan studi kasus kami di desa. Saya sangat bersemangat karena berarti bisa bertemu orang asing dan bernarsis ria dengan bahasa Inggris, dan mungkin bisa menjadi representasi bangsa Indonesia yang berkualitas (agak berlebihan sih). Maka di hari Minggu itu saya dan sebagian besar dari kami tidak pulang ke rumah di Semarang, tidak juga mengumpulkan data, tapi menemani bule yang datang, bernarsis ria membantu teman yang kesulitan menjelaskan kegiatannya saat kunjungan dalam bahasa Inggris. Dalam perjalanan pergi ke dan pulang dari desa saat kunjungan, saya berada dalam satu mobil dengan dr. Nurkukuh. Subhanallah, saya bisa mengobrol dengan beliau. Oh, saya benar-benar bisa merasakan cinta beliau kepada kami. Kami mengobrol santai, tertawa. Bahkan saya melempar sebuah topik diskusi yang kemudian ditanggapi seluruh penumpang di mobil itu, “Tadi waktu bulenya bertanya pada teman saya apakah diagnosis Chikungunya yang dibuat itu merupakan sebuah suspect atau confirmed, teman saya menjawab bahwa ini adalah suspect karena konfirmasi dilakukan di laboratorium” Padahal jelas diagnosis laboratorium yang dimaksud teman saya adalah PCR atau semacamnya, yang bahkan Semarang pun belum mampu melakukan, yang berarti memang Chikungunya di Indonesia sebagian besar ditegakkan hanya dengan gambaran klinis. Tidak ada yang lucu dari topik itu, tapi membahasnya dengan dosen saya terasa lain.

Saya masih ingin membahas pertemuan saya dengan Bapak Bule itu, yang ternyata datang seorang diri (dengan dosen kami dari Semarang, tentu) tanpa teman-teman bulenya yang lain (yang membuat saya sedikit kecewa sampai mengorbankan tidak pulang ke Semarang tapi kemudian tidak menyesal). Dan lagi-lagi pertanyaan itu, untuk saya dan seorang teman saya, “Mau jadi apa kamu setelah lulus?”, saya menjawab dengan spontan, “Saya tertarik pada penyakit infeksi, maka mungkin Ilmu Penyakit Dalam menjadi pilihan saya” yang kemudian saya ketahui bahwa pilihan jawaban yang dia berikan adalah dokter praktik, peneliti, atau dosen. Teman saya pun senada, dia memikirkan kemungkinan untuk menjadi dokter bedah. “Oh, dokter praktik ya,” katanya. Dengan jiwa penjilat saya membayangkan menjawab, “Eh, tergantung ding Dok, kalau Anda mau mempromosikan saya supaya mendapat beasiswa di Universitas Anda di Belanda, saya mau kok, menjadi dosen atau peneliti, atau apapun yang disyaratkan, asal saya bisa sekolah ke luar negeri.” Tapi saya tahu mimpi harus dicapai dengan usaha. Semangat!

Jepara yang kata orang sangat panas dapat kami atasi dengan beberapa kipas angin yang kami bawa dari rumah. Panasnya udara Jepara terbayar oleh keindahan pantai-pantainya, pemandangan kota yang cukup rapi, dan kenyataan bahwa kami cukup bahagia di sini. Desa tempat kegiatan kami pun saya rasa jauh lebih maju dibandingkan dengan desa di Salaman. Sebagian besar rumahnya berlantai ubin, berdinding tembok, bertempat sampah, dan yang terpenting ber-WC. Mungkin sih, saya tidak yakin, karena kami tidak memeriksa kesehatan lingkungannya tapi mewawancarai WUS-nya mengenai riwayat imunisasi TT, yang belum tentu mereka tahu yang kami maksud. Dosen kami bertanya, “Bagaimana caramu memastikan bahwa imunisasi yang pernah dia dapat itu benar-benar imunisasi TT, bukan yang lain?” dan kami bengong tak mampu menjawab, dan beliau menyimpulkan bahwa data kami rawan untuk menjadi fiktif.

Hari-hari menuju penyelesaian makalah dan pembuatan flip-chart (lembar balik) sebagai media presentasi terasa sungguh panjang. Kami begadang beberapa malam. Saya sering melarikan diri dari kenyataan dan kewajiban, dengan tidur pulas di kasur sementara teman satu kamar mengerjakan dengan penuh semangat. Walhasil saya membuat mereka harus menunggu saya selesai sebelum bisa menjilid dan mengkopi makalah untuk dikumpulkan besok paginya. Di hari seminar saya sangat bersemangat untuk presentasi (lihat sebelumnya, bahwa saya memang berniat show-off di Mlonggo akibat tidak cukup terlihat saat di Salaman) dan merasa telah melakukan yang terbaik, termasuk saat ditanyai penguji. Alhamdulillah. Sungguh menyenangkan, public speaking itu, dibandingkan jika saya harus berbicara empat mata dengan seseorang. Wejangan dokter saat di Puskesmas ditambah pengalaman buruk saya saat penyajian kasus di stase anak kemarin cukuplah menjadi pelajaran, supaya saya mematuhi aturan penting itu: presentan harus menguasai materi, media yang ditampilkan harus menarik, hanya menampilkan poin penting, dan dalam satu halaman berisi maksimal 12 baris.

Hari-hari selain perjuangan mengumpulkan data, menulis makalah, dan berjalan-jalan ke pantai (dan air terjun, dan rumah makan, dan lain-lain) diisi dengan kejutan kecil dari dr. Nurkukuh, yaitu martabak telur pada malam Minggu, dan arem-arem pada Minggu paginya. Subhanallah, Anda sangat perhatian Pak. Kami tahu Anda mencintai kami. Betul kan Pak… Bukan, bukan karena saya mencintai makanan sehingga siapapun yang memberi saya makanan gratis (dan enak!) membuat saya terpesona. Bahkan saya berusaha merasionalisasi, bahwa beliau semata kasihan pada kami yang tidak pulang pada hari Minggu pertama karena kunjungan si bule sehingga makanan mungkin dapat cukup menghibur. Namun ternyata bukan hanya martabak atau arem-arem itu yang membuat saya menyimpulkan bahwa beliau mencintai kami. Beliau begitu sabar, dengan cara yang unik. Kata teman saya, “We can feel his love.” dan saya jawab, “Yes, the love is in the air.” Teman saya itu pula yang membuat saya lega, saya bukanlah satu-satunya orang yang merasa sedih (dan hampir menangis) pada saat pertemuan dengan beliau sore itu, yang sekaligus merupakan pengarahan terakhir dan perpisahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s