Salaman [IKM #2]

Salaman, Magelang: WC dengan Lele

Saya berencana menuliskan beberapa sekuel kisah hidup saya selama  stase IKM (Ilmu Kesehatan Masyarakat) baru-baru ini. Selamat membaca!

Beberapa hari di Bapelkes (Balai Pelatihan Kesehatan) Salaman Magelang mendengarkan kuliah membuat kami semakin mengerti mengenai apa yang akan kami lakukan di desa nanti. Mulai dari penetapan tujuan, pengumpulan data, analisis data, menemukan masalah dan prioritasnya, analisis penyebab masalah, sampai alternatif pemecahan masalah. Kuliah tiga hari tiga malam (karena sampai pukul 10 malam!) cukup membuat kami kenyang. Oh ya, juga tentang cara penulisan makalah ilmiah. Terima kasih kepada Pak Edy, berkat beliau saya jadi mengerti Epi info, mengingat kembali SPSS, dan sistematika penulisan makalah ilmiah. Anda dosen yang paling berkesan selama di Salaman, Pak! (Belakangan saya ketahui kalau beliau pun terkesan dengan kelompok saya. Haha, narsis!).

Kunjungan ke desa ternyata tidak seperti yang saya bayangkan. Saya menyangka kami akan ke desa selama tiga atau empat hari. Ternyata, delapan hari!! Tinggal di desa, yang mungkin tanpa listrik dan sinyal, sulit air, tidur beralas tikar? Ternyata saya salah. Kami mendapatkan jatah di desa Ngampeldento, Salaman. Kami ditempatkan di rumah Pak Lurah, yang merupakan rumah terbaik di RW itu, atau mungkin di desa itu. Seminggu lebih sehari di situ pun ternyata tidak seburuk itu. Saya menikmatinya. Hari pertama kami berkenalan dengan tuan rumah. Ibu Lurah sungguh ramah, dan ternyata masakannya enak, sampai-sampai saya siap menyalahkan beliau kalau pulang dari desa nanti saya bertambah gemuk. Anak gadisnya ada tiga orang, dan kami cukup sibuk menjodoh-jodohkan anak keduanya dengan seorang teman sekelompok kami. “Ayolah Bang, daripada kami susah-susah mikirin kenang-kenangan untuk dikasih ke Pak Lurah, kamu aja ya, ditinggal di sini, di-pek jadi menantunya,”

Hari-hari pertama di desa kami gunakan untuk pengumpulan data, yaitu berkeliling dari rumah ke rumah untuk melakukan wawancara dengan panduan kuesioner tentang kesehatan lingkungan. Saya berhasil mengunjungi enam atau tujuh rumah, dan semuanya tidak mempunyai WC! Mereka memiliki tempat pembuangan kotoran berupa cemplung (lubang yang dibuat di tanah, sempit dan dalam, dindingnya dilapisi anyaman bambu. Tinja diharapkan terserap ke tanah) atau kolam ikan (bilik sederhana di atas kolam ikan. Tinja diharapkan dimakan ikan). Jarang ada rumah yang memiliki tempat sampah. Mereka membuang sampah di lubang depan rumah, atau di kebun belakang rumah, Sebagian besar rumahnya berlantai tanah, berdinding gedhèk, berjendela besar-besar namun tidak pernah dibuka. Jarak antarrumah sangat dekat, dipisahkan oleh jalan setapak yang tidak beraspal. Di beberapa rumah pertama saya merasa mual dan jijik dengan keadaan itu terutama WC-nya, tapi kemudian saya merasa sedih dan ingin menangis. Astaghfirullah. Masih ada ya, warga dengan lingkungan seperti ini, di tengah-tengah pulau Jawa yang merupakan pulau teramai (dan salah satu pulau termaju) se-Indonesia? Bagaimana PTT saya nanti, di luar Jawa, di daerah yang kata pemerintah ‘jauh lebih terpencil’ dibandingkan di sini?

Warga desa di sana sungguh ramah. Bahkan terkesan polos. Dari beberapa wawancara dan pertemuan dengan ibu-ibu di pengajian setempat, mereka sungguh terbuka pada tujuan kedatangan kami untuk memberikan penyuluhan tentang kesehatan. Sebagian besar warga bekerja sebagai buruh tani sehingga kulit mereka terbakar matahari, senyum mereka adalah senyum lelah setelah bekerja seharian di sawah. “Salah satu pedoman umum gizi seimbang adalah olahraga Bu,” kami menjelaskannya saat penyuluhan sebagai intervensi penyelesaian masalah gizi kurang di sana, yang dijawab oleh mereka, “kan setiap hari sudah bekerja keras di sawah, Mbak.”

Kunjungan sekolah, salah satu kegiatan kami selama di desa, cukup membuat saya kaget. Sekolah yang seharusnya merupakan institusi yang nasionalis, ternyata masih harus berusaha keras untuk membuat muridnya mampu berbahasa Indonesia. Murid-murid terutama kelas 1 dan 2 jauh lebih mengerti bahasa Jawa Krama dibandingkan dengan jika saya berbahasa Indonesia. Saya suka anak-anak, dan kunjungan sekolah ini mengingatkan saya pada school visit yang merupakan agenda wajib di setiap workcamp IIWC yang pernah saya lakukan.

Pada hari ketiga, kami memanfaatkan Musyawarah Masyarakat Desa sebagai sarana penyampaian hasil survei kesehatan lingkungan yang kami lakukan. Saya tidak ingin membahas bagian ini lebih lanjut karena saya merasa marginal saat itu (yang belakangan membuat saya bertekad harus show-off di Jepara). Namun pada intinya, warga desa memberikan perhatian terhadap masalah yang ada yaitu tingginya jumlah penderita ISPA dan kemungkinan hubungannya dengan lingkungan rumah yang lembab akibat jarang membuka jendela dan debu di dalam rumah, dan kesepakatan kerjasama warga desa dan mahasiswa telah tercapai. Maka penyuluhan dan gerakan-gerakan yang kami galakkan (gerakan buka jendela, bersih-bersih rumah) berjalan lancar, Alhamdulillah. Tidak semua warga ikut sih.

Kegiatan selain di desa adalah praktik belajar lapangan mengenai manajemen Puskesmas. Bagian ini pun ingin saya hindari, karena saat itu saya terpesona dengan seorang ko-ass dari UII Yogyakarta, yang ternyata sudah berkeluarga. Namun pelajaran berharga yang telah kami dapatkan (selain pelajaran bahwa menjaga pandangan memang hal terbaik yang wajib dilakukan) harus disampaikan di sini. Puskesmas sebagai sebuah organisasi yang memiliki tujuan, harus selalu berpegang pada target untuk mencapai tujuan tersebut. Apabila target tidak tercapai, maka masalah yang muncul harus dicari penyebabnya dengan pendekatan manajemen, dan dicari solusinya. Pendekatan manajemen berarti jauh dari praktik menyalahkan masyarakat, pemerintah, atau lingkungan di luar Puskesmas, karena hal-hal tersebut adalah di luar kendali Puskesmas. Karena pendekatan manajemen itulah, segenap perangkat Puskesmas harus rela introspeksi untuk memperbaiki kinerja, sehingga selanjutnya target dapat tercapai.

Udara di Magelang sangat sejuk, langitnya berbintang hampir setiap malam, membuat saya bernostalgia dengan kehidupan saya hampir lima tahun lalu, di sebuah sekolah yang terletak lima belas menit dari Bapelkes Salaman ini. Sayang sekali kami gagal meluangkan waktu untuk mampir ke sekolah keren itu. Namun satu impian saya tercapai juga, yaitu rafting/ arung jeram. Bersama teman-teman, berfoto, ‘menceburkan diri’ ke sungai (berhasil menghindari ‘diceburkan’), dan merasakan melaju terbawa arus sungai tanpa harus mengayuhkan tangan atau kaki. Subhanallah. Seru! Walaupun ketika sudah naik lagi ke atas perahu karet, saya melihat pemandangan itu: seorang bapak-bapak berjongkok membelakangi kami, membuang sesuatu yang tidak akan pernah dia rindukan, benda yang pasti terlarut ke dalam air sungai sehingga kulit dan baju kami ikut merasakannya, atau bahkan mungkin perut kami, karena kami menelan air sungai tanpa sengaja. Hiiii…..

Salaman pun membuat seorang teman saya terinspirasi bahwa lele adalah hewan yang tidak patut dimakan. Bukan, bukan karena dia suci atau sakral melainkan karena saat di desa, teman saya akhirnya menyaksikan sendiri bahwa lele adalah pemakan kotoran manusia. Tidak semua lele sih. Banyak juga lele yang makanannya pelet. Namun tetap saja, dia sukses menginspirasi saya pula. Selamat tinggal lele, saya hanya akan memakanmu jika saya berhasil diyakinkan bahwa makananmu adalah pelet, bukan yang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s