Co-ass’ Corner: dr. Agus [Part 2]

Pembicara kedua adalah dr.Agus Fitrianto, lulusan FK Undip angkatan 1999 yang melanjutkan PTT di Pulau Kesui, Maluku, yang saat ini sedang menempuh tahun pertama di Bagian Ilmu Kesehatan Anak Undip. Pembicara kedua ini menyapa audiens dengan pertanyaan menantang, “Mau jadi apa Anda dalam 5 tahun ke depan?” yang segera dijawab dengan tegas oleh seorang audiens, Kak Andy Kris dengan, “saya akan mendaftar PTT, kemudian melanjutkan spesialis.”

Tema yang dibebankan pada sesi kedua ini adalah mengenai pentingnya membuat peta hidup. Maka beliau menekankah pentingnya memiliki visi dalam hidup. Visi-lah yang menentukan koridor kita untuk sampai tujuan. Visi-lah yang menjaga kita tetap berada pada jalur yang sesuai, yang akan mengantar kita pada visi tersebut.

Dr. Agus memulainya dengan mengisahkan perjalanan beliau bahwa pada awalnya setelah lulus beliau bertujuan untuk mencari pengalaman dan mencari uang untuk melanjutkan sekolah spesialis Anak. Dr. Agus meyakini bahwa dengan keyakinan, semuanya bisa kita lakukan. Lulusan Undip harus percaya diri, yakin akan kemampuan diri sendiri. Beliau bercerita bahwa pertama kali datang ke Pulau Kesui, tidak ada satu pun kemampuan berikut yang beliau kuasai: apendiktomi, amputasi, sectio caesaria, dan satu lagi (penulis lupa, red.), dan pulang ke Jawa dari Kesui, keempatnya terkuasai. Beliau terpaksa melakukan hal-hal semacam itu untuk menolong pasien.

Selain sebagai orang yang membantu mengantarkan kesembuhan orang lain, dokter adalah fasilitator masyarakat. Beliau ditempatkan di daerah terpencil pascakonflik, di mana peran seorang mediator untuk mendamaikan sangat dibutuhkan. Daerah itu baru mendapatkan dokter saat beliau datang, sejak Indonesia merdeka. Dan di sinilah salah sartu peran dokter. Dokter juga pengajar, karena banyak petugas kesehatan yang tidak terlalu terlatih yang membutuhkan pelatihan. Dokterlah yang diharapkan dapat membagi ilmu dan keterampilannya kepada para petugas kesehatan lainnya. Revitalisasi di daerah itu pun perlu dilakukan, maka dokterlah yang menjadi motor penggerak revitalisasi di bidang kesehatan, seperti memperbaiki Puskesmas yang sudah sangat buruk kondisinya, menyuplai obat-obatan, dan sebagainya.

Senada dengan pembicara pertama, dr. Agus menekankan pentingnya Ilmu Kesehatan Masyarakat ketika menjadi dokter PTT, di mana ilmu semacam ini sangat aplikatif.

Keterbatasan waktulah yang menghentikan cerita beliau mengenai pengalaman pribadi menjadi dokter PTT di Kesui. Topik utama sesi kedua ini adalah membuat peta hidup untuk membantu pencapaian tujuan setelah lulus dokter nanti. Karena penulis yakin banyak audiens (dan para pembaca yang tidak berkesempatan hadir) ingin tahu lebih banyak mengenai cerita pengalaman beliau, penulis menyarankan para pembaca untuk mengunjungi sendiri situs ini, yang berisi pengalaman beliau selama menjadi dokter PTT.

Tetapkan visi adalah tugas pertama kita saat ini, detik ini. Dengan visi itu, kita breakdown menjadi peta hidup yang lebih detil, dan cobalah untuk memegang teguh peta itu. Itulah haluan kita. Penulis mengutip beberapa kalimat penting yang sangat bermakna dari dr. Agus, “Kita adalah nahkoda dalam hidup kita, maka tentukan tujuan mau dibawa ke mana kapal kita. Apabila kita tidak mempunyai tujuan yang jelas, maka setiap ada pulau yang indah dan tampak menjanjikan, maka kita akan mudah berlabuh, dan akhirnya akan kecewa. Maka tujuan adalah sangat penting.”

Hal kedua yang tak kalah penting dari visi adalah konsistensi, yaitu keteguhan setelah menetapkan target. Tidak mudah tergiur oleh tawaran ini dan itu, jika kita memang sudah memiliki tujuan tertentu. Maka yakinlah. Keinginan kuat dan prasangka yang baik adalah dua modal utama untuk mencapai keberhasilan.

Tanpa bermaksud tendensius, penulis merasa perlu menyampaikan bahwa Dr. Agus juga menyebutkan dua ayat Al-Quran, yaitu bahwa Allah adalah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Maka selalulah berprasangka baik. Yang kedua adalah mengenai pentingnya mempersiapkan masa depan, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 59:18).

Mimpi adalah setengah rencana, sedangkan rencana merupakan setengah dari kerja keras, dan kerja keras adalah setengah dari keberhasilan. Demikianlah rumus sederhana yang beliau yakini, yang penulis yakini pula dapat berlaku bagi semuanya. Keberuntungan berbeda dari keberhasilan, di mana keberuntungan seringkali tidak memerlukan proses, sementara keberhasilan sudah pasti merupakan akhir dari proses yang panjang yang kita usahakan.

Acara sore itu segera diakhiri karena saat itu waktu sudah menunjukkan lima menit menuju adzan maghrib. Pertanyaan-pertanyaan pada sesi kedua terpaksa disimpan untuk kesempatan berikutnya, apabila memungkinkan. Penulis menyayangkan keterbatasan waktu tersebut, dan ingin rasanya mengacungkan tinju ke udara dan berteriak, “Saya ingin bertanya!” namun apa daya.

Secara keseluruhan, acara sore itu cukup menggugah semangat untuk menetapkan tujuan dengan jelas, mau apa kita nanti. Terrmasuk menetapkan apakah tujuan dari PTT kita nanti, apakah mencari uang atau mengabdi pada masyarakat atau keduanya. Setelah tujuan jelas, maka konsistensi dan keyakinan yang kuat harus mengiringi tujuan tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s