Dini Hari Itu, Plus Pertamaku

Saat itu dini hari. Ada seorang pasien bayi perempuan usia 3 bulan dengan berat badan 2700 gram. Pasien datang dengan distres respirasi et causa bronchopneumonia. Pukul satu dini hari pasien masuk ke bangsal dengan terpasang infus hasil venaseksi, dan ventilator manual. Koass bergilir memompa dengan hitungan satu tiupan setiap tiga napas.

Pukul 2 dini hari pasien mulai rewel dan menangis. Tangisan tanpa suara itu diikuti oleh tarikan napas panjang dan dalam, dengan retraksi suprasternal, interkostal, dan epigastrial yang nyata, ditambah napas cuping hidung. Tanpa mempertimbangkan kemungkinan penyebab memburuknya napas pasien, hitungan pompa ventilator diubah menjadi satu tiupan setiap dua napas.

Setengah jam kemudian belum ada perubahan. Pasien tetap rewel, napasnya dalam dan panjang. Koass mencoba mendengarkan inflasi melalui stetoskop, namun tidak terdengar apapun kecuali denyut jantung yang mulai takikardi, dan adanya ronkhi basah halus. Pukul 02.45, residen jaga terbangun dan langsung beraksi atas pemberitahuan koass tentang memburuknya napas pasien. Residen jaga mulai panik. Koass menyadari kesalahan, bahwa seharusnya mereka segera melapor 45 menit yang lalu.

Suasana dini hari yang awalnya lengang itu berubah menjadi tegang. Yang pertama dilakukan residen adalah mengecek adakah napas spontan, dengan melepas ambubag dan meletakkan sehelai benang di ujung pipa ET. Ternyata benang tidak bergerak. Artinya negatif. Tidak ada napas spontan. Maka residen melakukan suction dengan dibantu koass untuk menghisap lendir atau apapun yang mungkin menyumbat.

Situasi semakin mendebarkan. Perawat mencari adrenalin, koass meminta residen jaga PICU untuk segera datang. Suction berhasil, dan menunjukkan sejumlah darah dan jendalan darah yang menghitam. Koass tetap berusaha mencari bantuan dengan menelepon residen jaga senior.

Usaha resusitasi tetap berlanjut. Sementara mecnoba melakukan suction yang ternyata berat sehingga membutuhkan bilas garam fisiologis ke dalam pipa ET, koass mencoba mengecek denyut jantung. Koass tidak yakin, maka dia mengoperkan stetoskop Littman itu ke temannya, koass yang lain. Tetap tidak ada. Perawat pun mencoba, hasilnya sama, tidak ada denyut jantung sama sekali. RKP yang sebenarnya terlambat pun dimulai. Lima pijatan untuk sekali tiupan napas. Demikian seterusnya. Usaha mencari denyut jantung terus dilakukan, sambil berharap suara lub-dub itu muncul dan merambat melalui stetoskop menuju telinga koass.

Residen jaga senipr sudah datang, dan memegang kendali. Adrenalin masuk, RKP tetap dilakukan. Denyut jantung berulang kali dicek; nol. Keluarga pasien dipanggil dan diberi tahu bahwa kondisi anaknya sudah sangat buruk. Ibu pasien mulai menangis histeris. Residen jaga senior, residen PICU, residen jaga, dan para koass menyadari kemungkinan tertolongnya pasien sangat kecil. Senter sudah disorotkan ke pupil pasien; midriasis tampak nyata.

Waktu kematian, 03.05. Ibu pasien tidak sanggup menyaksikan bayinya yang sudah kaku itu. Ayah pasien dengan sabar mendengarkan penjelasan residen jaga senior.

Suasana pagi itu tetap seperti biasa. Lengang. Dingin. Sama, kecuali bahwa ada satu lagi nyawa yang dijemput oleh malaikat, untuk mengikutinya terbang menuju surga bersamanya.

Advertisements

One thought on “Dini Hari Itu, Plus Pertamaku

  1. hwaaaa…lily sedih banget bacanya…lily baru semester enam nih d fak kedokteran jg,,insya Allah tahun depan koass..berarti klo udah jaga di bag neonatus itu harus bener2 waspada banget yah sama typ perubahan keadaan neonatus,, sedetik aja terlambat,, nyawa taruhannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s