Bahagia Berselubung Duka

Terkadang kita benar-benar harus ditampar sebelum menjadi sadar. Yeah, untuk membangkitkan ARAS kita, dari gelombang delta di otak menjadi alfa. Entah pemulihan kesadaran secara biologis maupun rohaniah, aku benar-benar sedang membutuhkannya.

Hari ini aku dikejutkan oleh kejadian ini. Ayah seorang temanku meninggal. Bukan karena aku sangat sedih atau apa. Aku juga tak tahu kenapa. Entah betapa aku menyayanginya, sehingga aku benar-benar terpana dengan berita itu, atau bahwa ternyata beliau sang ayah memang seseorang yang subhanallah solehnya sehingga menggetarkan hati…

Siang itu juga aku ke sana, dan merasakan aura yang berbeda, mengalami kesedihan yang mendalam. Sesuatu yang mengagetkan, ketika kubandingkan dengan saat meninggalnya kakek atau nenekku, aku bisa merasakan duka yang sama. Sedih, dan kehilangan.

Well, intinya pulang dari sana aku baru sadar bahwa aku adalah seorang anak dengan orang tua yang lengkap, dengan mobil yang sedang aku kendarai, dengan seorang sahabat di sampingku yang mau berbagi denganku, dengan rumah yang nyaman (sangat, malah) menantiku di ujung jalan, dan apa yang melekat padaku saat itu. Aku baru melihat diriku seutuhnya saat itu. Bahwa aku utuh tak kurang suatu apa. Hanya kurang satu hal, yaitu syukur. Itu satu. Kesadaran berikutnya yang muncul adalah bahwa manusia memiliki satu akhir yang pasti dan sama, entah dia ganteng atau jelek, bodoh atau pintar, langsing atau gembrot, bahwa kita semua akan merasakan mati. Dan berapa waktu yang kita punya? Satu abad? Satu tahun? Atau satu jam? Entahlah, tak ada yang tahu. Dan selalu muncul pertanyaan klasik itu, apa yang telah kuperbuat untuk akhir hidupku yang kekal di alam sana nanti? Sudahkah aku bertobat? Sudahkah aku membalas cinta Tuhanku minimal dengan taat dan mencintai orang sekitarku? Sudahkah aku melunasi hutang-hutangku? Dan yang terpenting, sudahkah aku bersyukur atas hidupku?

Aku yakin perasaan yang aku rasakan juga dirasakan banyak teman yang hadir di sana saat itu. Bukan merupakan sebuah kontradiksi bahwa kebahagiaan bisa diperoleh dalam suasana duka. Bukan. Hanya saja, manusia teringat dengan kuasa-Nya bahwa dia tidak berdaya. Bahwa hanya dengan kematian seseorang diingatkan. Hanya dengan kematian. Dan syukur pun terucap.

Dan syukur itulah yang kadang merupakan sebuah kebahagiaan yang cukup besar. Sebesar itu hingga bisa menutupi duka atau rasa tidak puas terhadap hidup. Aku pun ingat kata ustadz di sebuah kajian, dari ayat suci Al Quran,

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. [QS 2:154]

Di akhir perjalanan sore itu, dari rumah temanku, aku merasa lebih hidup. Lebih ringan, bahagia. Seakan keburaman di dalam kepala memudar, digantikan oleh semangat untuk bersegera menyelesaikan kewajiban, melunasi hutang-hutang, berlomba lari dengan waktu. Waktuku hanya sedikit, dan entah sampai kapan. Sementara impianku menunggu untuk diraih. Sungguh sebuah cara baru untuk membangunkanku, yang akhir-akhir ini ‘tertidur’.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s