Konsep Diri yang Memudar

Itulah yang terjadi pada diri saya. Hari ini saya diingatkan bahwa semua manusia mempunyai potensi. Potensi tersebut apabila digali dan dipastikan berubah menjadi manifestasi, maka efeknya mengagumkan. Tidak ada yang tidak bisa dilakukan, apabila kita benar-benar mau melakukannya. Bahkan seluruh dunia pun turut serta membantu berubahnya potensi kita menjadi manifestasi (disadur dari Paulo Coelho).

Saya pernah ingat bahwa saya punya beberapa kelebihan. Namun saya juga ingat saya punya banyak kekurangan dan kelemahan yang sangat mengganggu, memalukan, menghambat. Sayangnya kelebihan dan pengalaman yang saya punya tiba-tiba terasa memudar (Sebenarnya tidak tiba-tiba tapi kronik progresif). Tiba-tiba saya terlalu disibukkan untuk menghilangkan kekurangan saya. Itulah definisi ‘tumbuh’ dan ‘berkembang’ yang saya yakini. Tiba-tiba saja keyakinan diri saya akan kemampuan dan pengalaman saya mulai memudar. Seakan saya amnesia atas apa yang telah saya lalui, pelajari, dan akhirnya saya dapatkan sebagai sebuah kompetensi baru. Rasanya sekarang saya berada dalam kondisi beberapa tahun lalu atau bahkan kondisi saat masih kecil dan tidak tahu apa-apa. Padahal beberapa tahun yang berat maupun ringan pernah saya lalui (saya yakin semua orang juga demikian, sih), dan saya yakin saya lebih matang dari sebelumnya. Namun tetap saja, kok saya tidak ingat bahwa saya bisa ini dan bisa itu, tahu ini dan tahu itu.

Dan ujung-ujungnya adalah diremehkan. Saya benci diremehkan! Pernah ada orang yang mengira saya tidak bisa ini dan tidak bisa itu. Tidak tahu ini dan tidak tahu itu. Tidak pernah mengalami hal seperti ini dan itu. Hhhh.. Saya terus mengingat kata-kata BJ Habibie, ‘diremehkan (di-under estimate) musuh berarti kita menang separuh darinya’. Saya selalu mengingatnya, agar tetap santai kalau diremehkan.

Bukan, bukan mengeluh. Bukan pula merajuk pada dunia untuk melihat diri saya seutuhnya dengan masa lalu saya yang gemilang (maksudnya dibanding saat ini), bahwa saat ini saya pasti masih bisa. Karena jangan-jangan memang saya sedang amnesia. Jangan-jangan memang saya lupa akan pengetahuan, pengalaman, dan kompetensi yang telah susah payah saya dapatkan, sehingga saya menjadi bodoh?!

Sedihnya apabila demikian. Sedih!

Saya memang tukang mengeluh. Kata seorang teman, banyak mengeluh mengurangi pahala.

Akhir kata, mempertahankan mood pada kondisi hipertimi adalah tujuan utama saya saat ini. Stay happy!!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s