Would someone guide me through this absurdity?

Konsultasi Ustadz: Berdakwah Melalui Sarana Cerpen

7 January, 2007

Penanya: Alaik
Dijawab Oleh: Ustadz Abu Saad

Pertanyaan:

Assalammu’alaikum Wr. Wb.
Ustadz yang dirahmati Allah, Ana mau tanya berhubungan dengan aktifitas
dakwah yang selama ini ana dan kawan-kawan jalankan. Apakah cerpen yang
isinya dari kisah nyata, koran, cerita kawan, keluarga, konflik sosial,
budaya dan lain-lain yang tetap mempunyai nilai-nilai religius termasuk
cerita dusta? Bagaiman hukum dakwah yang menggunakan media cerpen
tersebut? Karena melihat fenomena remaja sekarang, kalau dakwah kami
langsung menggunakan artikel yang bahasanya baku dan kaku serta banyak
ayat-ayat dan hadistnya, mereka akan malas membacanya. Salah satu
alternatif yang kami pilih adalah menggunakan media cerpen yang
bahasanya renyah, gaul, mudah dimengerti, meremaja, ringan dan sudah
akrab dengan bacaan mereka. Kebetulan diantara kami ada beberapa yang
mempunyai bakat dalam bidang sastra tersebut, sayang kalau
disia-siakan, kan bisa mubadzir. Mohon penjelasanya. Syikron, Jazakillah khairon. Wassalammu’alaikum Wr. Wb.

Jawaban Ustadz:

Sebagaimana telah diketahui bahwasanya aktifitas dakwah merupakan
ibadah yang agung dan juga Allah memerintahkan dan menganjurkannya
bahkan menjadikan pelakunya orang yang paling baik ucapannya dan
amalnya.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (Al-Fushshilat: 33)

Maknanya:
Tidak ada seorang pun yang lebih baik ucapanya dari orang yang menyeru
di jalan Allah, mengamalkan apa yang dia serukan dan terang-terangan
mengatakan bahwasanya dia termasuk orang-orang yang berserah diri. Dan
banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist Nabi shollallahu’alaihiwasallam
yang menjelaskan tentang kewajiban berdakwah dan keutamaannya yang
semua ini menunjukkan bahwa aktifitas dakwah adalah suatu ibadah yang
agung. Maka sebagaimana yang ma’ruf (dikenal -ed) di kalangan ahlul ilmi, suatu ibadah tidaklah diterima di sisi Allah kecuali terkumpul padanya dua syarat:

Syarat pertama:

Ikhlas karena Allah, dengan dalil firman-Nya, yang artinya:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah
dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang
lurus.”
(Al-Bayyinah: 5)

Dan syarat ke dua:

Sesuai dengan tuntunan dari Nabi shollallahu’alaihiwasallam, dengan dalil sabda Nabi shollallahu’alaihiwasallam yang artinya:

“Barangsiapa beramal denga suatu yang yang tidak ada perintah dari kami maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Bukhori)

dan ini sesuai dengan makna dari firman Allah subhanahuwata’ala:

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa
di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan dia Maha Perkasa lagi Maha
Pengampun.”
(Al-Mulk: 2)

Yang ditafsirkan oleh Fudhail bin Iyadh makna yang lebih baik
amalnya yaitu: yang lebih ikhlas dan lebih tepat dengan tuntunan Nabi.
Maka beranjak dari sini, ketika kita memulai aktifitas dakwah haruslah
kita bertanya, apakah dakwah kita ikhlas karena Allah atau sesuaikah
dakwah kita dengan yang digariskan oleh Nabi kita shollallahu’alaihiwasallam, baik itu kaifiyyah-nya, metodenya atau wasilah-nya/medianya, tempat ini bukan tempat untuk berijtihad dengan mereka-reka kaifiyyah
dakwah, metodenya ataupun medianya, harus sesuai dengan syariat dan
tuntunannya, karena seluruh bagian dari agama kita telah sempurna tanpa
memerlukan lagi tambahan ataupun pengurangan, sehingga dalam masalah kaifiyyah
dakwah, metodenya ataupun medianya itu pun sudah jelas, tidak mungkin
hal ini diserahkan kepada kita untuk mengada-ngadakannya atau
membuat-buatnya, maka ana nasehatkan kepada al-akh untuk kembali
mempelajari kitab-kitab para ulama’ yang menjelaskan tentang masalah
ini secara mendetail seperti kitab karya Syaikh Rabi’ bin Hadi
Al-Madkholi yang berjudul “Manhaj Dakwah Ilallah fihi Al-Hikmah wal Al-Aql” dan juga membekali dirinya dengan Ilmu-ilmu syar’i, karena ini merupakan bekal yang utama dan pertama bagi seorang da’i ilallah,
kalau menghendaki dakwahnya menjadi dakwah yang benar di atas dasar
Al-Kitab dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman generasi salaful-ummah
serta memberikan buah yang berbarokah dan diterima di sisi-Nya. Wallahu a’lam.

http://muslim.or.id/2007/01/07/konsultasi-ustadz-berdakwah-melalui-sarana-cerpen/#more-163

Well, those were taken fully without any change from the website mentioned.Please, please, I really need someone’s advice before tomorrow, and it means I need it so bad. Does anybody want to give any comment on my blog???! This is so urgent!

I really need to know the importance to held such kind of workshop to make short story, especially Islamic short story. And it will be followed by meet and greet with the author herself. There will be two kinds of occasion then, training and sharing with the expert.

Now the big question in my mind is, “Is it really necessary to held the workshop of short story-making”???? Hey, maybe it’s quite too late for me to sigh like this, to be very confused or doubt… I am the coordinator for that occasion, and now I am complaining about the main idea???!!

I am trying to be better all the time, like now. I try to follow what is right, and leave  what’s wrong. So I am afraid of being lost along the way of my searching for truth, searching for Allah’s right way.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s