Jakarta hujan

Blog ini juga kuputuskan menjadi tempat aku mencatat race recap alias kisah aku berlari.

Baru bulan lalu kuputuskan untuk ikut serta dalam Jakarta Marathon 2016. Kami tiba di Jakarta dengan kereta Sabtu subuh, setelah drama aku ketinggalan kereta yang tidak ingin kubahas sama sekali. Rombongan kami adalah aku dan beberapa mahasiswa penggila lari, dan Pak Erie, guruku yang gila lari juga. Beliau pernah jadi tokoh juga dalam kisahku yang tentang kram itu (haha gak jelas ya).

Beberapa minggu sebelum Jakmar memang beredar ramalan cuaca bahwa hari-H akan hujan lebat. Tentu saja BMKG benar, kami berlari dalam hujan! Kesannya? Dingin, tidak ada risiko heat-stroke atau dehidrasi. Namun sayangnya baju dan dalaman jadi menempel ke kulit dan menimbulkan lecet di sana sini yang wadaw banget.

Kami tiba di garis start tepat waktu tapi aku butuh ke toilet. Kami putuskan start dulu dan ke WC manapun yang kutemukan di km 2 atau 3. Di km 10 perut kananku nyeri. Oh side stitch (sudukan) nih, kupikir. Tapi nyeri sepertinya sedikit di bawah, jadi mungkin ini nyeri dinding depan perut yang memang sudah ada hernia insisionalis (dinding perut tidak menutup sempurna akibat dokter bedahnya tidak menjahit full waktu aku operasi pengangkatan usus buntu di umur tujuh). Sejauh 3 km aku berlari sangat lambat dan mengatur napas (untungnya rajin yoga), ditemani teman kecilku bernama Lucky (ig: lukriboo). Setelah lepas dari nyeri kram perut itu (alhamdulillah, hilang sama sekali sampai finish!), giliran Lucky yang nyeri telapak kakinya. Selain itu, kami menikmati lari kami yang pace 7:30 sampai 8:30. Di km 22 kami baru menemukan pak Guru dan 2 mahasiswa yang memang janji mengawal bapak sampai finish. 

Sejak km 24 aku kelaparan. Ingin berhenti saja dan makan ke warung. Kepala pening, kupikir oh mungkin hipoglikemi. Maka aku mengambil semua buah yang mungkin kuambil (jeruk baby, jeruk biasa, apel, semangka dan semangka lagi) beberapa km sekali  demi menyetor gula ke darahku. Oh Jakmar kategori Full Marathon memang surga buah, aku bahagia (karena buahnya sudah dipotong, siap makan, haha).

Sejak km 22 itu pula aku dan Lucky jadi mengikuti ritme pak Guru yang jalan-lari. Ya, betul, masih ada 20 km dan kami menyelesaikan sampai finish dengan jalan kemudian lari kemudian jalan lagi. Sepanjang jalan kami mengobrol, atau mengeluh, atau aku ribut “kalau jalan terus kayak gini kita finishnya COT (cut-out time alias batas akhir finish yang berhak mendapat medali) lho,” dan kalimat serupa.

Beberapa komunitas yang menggelar lapak gratis seperti buah, bahkan arem-arem dan klepon, sungguh membahagiakan. Belum lagi tulisan-tulisan penyemangat semacam “Lari woi, ini bukan gerak jalan.” Atau “Mbahku barusan lewat.” Dan teriakan mereka “Ayo mbak, semangat, 1 km lagi.” (Kujawab, ah masih 2 mas, jangan php hahaha).

Yang kuingat adalah hujan dan obrolan segala macam. Beberapa artis kulihat (peserta lari atau tim support di sisi jalan), dan pelari kawak juga. Beberapa km sekali aku sibuk bersyukur bisa berada di jalanan dan berlari. 

Di km 37 satu mahasiwa nyeletuk bahwa inilah titik jarak di mana marathoner merenungkan hidupnya. Mungkin dia benar, karena beberapa km sebelumnya (lah, jadi bagiku mungkin km 35?) aku masih saja teringat dengan kisah cintaku yang terlalu prematur untuk kandas. Hahaha anyways, kami kemudian mendiskusikan tentang kenapa kami lari (sambil lari, emang edan kabeh). Tungkai bawahku sudah terasa sakit sejak km 17 tapi aku tidak mengeluh, hanya beberapa kali stretching betis dengan anehnya (semacam lunges haha, but it worked).

Begitulah, rasanya 6 jam 20 menit untuk jarak 42,2 km itu lama sekali. Every kilometer seems so far away hahaha. Tapi akhirnya kami finish juga. Tinggal bertiga (dengan pak guru), yang dua orang termasuk Lucky sudah finish. Kami mengatur langkah dan lari bersama beberapa meter dari garis finish demi mencitrakan diri hehe.


Di Monas itu hujan deras jadi kami berfoto dalam hujan, menyapa beberapa orang, dan terpincang-pincang mencari taksi. Di hotel kami mengantri mandi sambil tertawa renyah menikmati kebersamaan (sepuluh orang di kamar itu, kamar yang late check-out untuk kami mandi). Memang ada satu pelawak dan satu objek bully dalam rombongan ini. 

Di Gambir kami makan sangat banyak (tentu saja ditraktir pak guru yang baik hati) kemudian mapan di kereta. Semua orang tertidur pulas kecuali aku yang sibuk membuat tulisan ini.

 I once said that I’d never run a marathon because it is not physiological. But here I am a proud marathoner. I then think that pain is indeed inevitable but suffering is optional. And I choose to endure.

Gluttony

This is beyond midnight and I want to eat haloumi cheese, tabouleh, and pilaf.

I wonder how our taste buds possess a memory too. Sometimes we miss food more than we miss people or circumstances. Or is it just me, I wonder too. Is it just a simple craving? Unknown.

The longing to eat certain types of food comes from the strong memory created while eating, I suppose? Again, my second deadliest sin (after ‘sloth’) is gluttony. In plain language, it means I eat a lot and I love to eat and maybe my source of happiness is food. So maybe for my brain, the experience of eating is always delightful. Hence this mellow post about longing for food.

It is an hour past midnight and I am lying awake, thanks to a huge dose of caffeine this morning from a famous coffeeshop called Peacock. 

Anyways, there are some food that we don’t always find at where we live. We ate it one day in the past far faraway from home, and now it is only a memory. And now we miss the food. We want to eat it but we need to either go far away, or create the dish ourselves (hopefully local markets provide the ingredients).

Haloumi cheese, I don’t know where to find here in my city, is similar to mozzarella but tastes much better and chewy and oh-so good. Tabouleh is a mediteranian salad made mostly of parsley. And pilaf is nasi campur or something like that.

I would love to recreate those food just to feed my greed. Maybe tomorrow. Or next week. We will see.
*still craving

Resilience

Malam ini kuputuskan berkendara pulang tanpa jaket. Sore itu aku lari bersama beberapa teman. Lima kilometer dengan beberapa tanjakan, sebagai usaha mematuhi jadwal latihan menuju event besar bulan ini dan awal bulan depan.

Baju lariku basah oleh keringat, dan aku mengendarai motor melawan angin malam. Dingin menusuk tulang dan menggidikkan leherku.

Aku kuat. Dinginnya angin yang mengeringkan keringatku seperti dinginnya hujan. Entah mengapa rasa dingin mudah terkait dengan rasa sedih karena kesepian.

Setiap hampir menyerah, yaitu ingin menepi, dan mengambil jaket yang terlipat di dalam tas, aku membujuk diri lagi. “Tahanlah, Nak. Dinginnya angin malam ini tidak ada artinya dibanding dinginnya hatimu yang sepi.”

Jika seumur hidup single dan baik-baik saja, mengapa harus menggigil dengan dingin di kulit yang akan segera mereda? Aku bisa kembali hangat sampai rumah nanti. Aku resilient.
Krik. 
Udah ah.

Bhay.

Donor Darah dan Tes HIV

Di suatu akhir pekan yg sejuk di daerah Slawi bernama Guci, aku berkesempatan mendampingi para penghuni kantorku dalam sebuah acara kemah. Hari itu terjadwal bakti sosial termasuk donor darah.

Malamnya aku hanya tidur tiga atau empat jam karena perjalanan yg cukup panjang dan rapat persiapan yg lumayan mengurangi jam tidur. Pagi itu tenda donor darah bersebelahan dengan layanan pemeriksaan HIV gratis. VCT atau tes dan konseling sukarela ini memang diadakan salah satunya karena kita ingat bahwa angka penderita AIDS di Jateng tertinggi di Indonesia. Ada alasan lain pula, bahwa daerah wisata itu memang daerah risiko tinggi. 

Hari itu tugasku di pos pengobatan gratis, yang dimulai siang nanti. Jadi pagi itu aku putuskan donor dulu, sambil berharap tidak pingsan kemudian (aku pernah pingsan setelah donor, waktu itu aku sedang puasa sunah hahaha. Jangan ditiru). Setelah mendaftarkan diri untuk donor, aku diminta petugas untuk bergeser ke meja VCT. Saat melihat orang-orang diambil darahnya 10 cc, tiba-tiba aku memutuskan untuk melewatkan tes ini dan mau langsung donor saja.

Seorang teman berkomentar, “Lho kenapa gak VCT? Sekalian, gratis, cuma 10 cc. Biar tau, ayo.”

“Gak ah, males aja.”

Sampai beberapa menit kemudian aku masih merasa merugi karena melewatkan VCT itu, terutama karena komen satu teman itu.  Penyesalan kedua adalah saat menyadari betapa menggelikannya berpikir “ngeri aja diambil darahnya 10 cc” saat jelas-jelas lengan kananku terpasang jarum 16G dan darah 350 cc keluar dari tubuhku.

Oh, terkait aku tidur larut di malam sebelumnya, aku merasakan pening pascadonor “kalau aku tahu mbaknya kurang tidur, gak kubolehin donor tadi!” Seru dokter PMI padaku setelah menyuruhku menambah 15 menit berbaring di field bed donor. Sampai malam aku masih saja pening, dan curiga tekanan darahku memang tidak pernah mencapai 100 milimeter air raksa untuk sistoliknya. Sepanjang hari aku makan dan makan untuk “mengembalikan darah”ku haha. Selama itu pula teringat bahwa saat donor itu aku sempat mengobrol dengan ibu petugas.

“Bu saya semacam menyesal tidak VCT.” Aku memulai curhatku.

Singkat cerita, berikut kesimpulan hasil obrolanku. Ternyata sebagai pendonor rutin, aku akan mendapat info dari PMI jika darahku terinfeksi HIV (atau penyakit lainnya yang diskrining, seperti hepatitis B dan C dan sifilis). Menurutmu? Tidak ada info tentang itu yang masuk ke hapeku, atau surat datang ke inbox emailku, atau ke rumahku, seumur hidupku menjadi pendonor. 

Aku simpulkan sampai terakhir aku donor, darahku bebas HIV. Donor terakhirku sekitar akhir tahun lalu. 

Tahun ini apakah aku berisiko terpapar sehingga harus cek HIV ulang? Aku bekerja di RS dan pernah menjahit luka terbuka, tapi tidak lebih dari itu, dan tidak pernah lupa menerapkan general precaution seperti cuci tangan dan memakai handschoon.

“Jadi aku akan tau dari PMI kalau darahku yg kudonor hari ini terinfeksi HIV kan bu?” Tanyaku menyimpulkan.

“Iya lah, mbak. Pasti diberi tahu.”
Jadi aku lega akhirnya donor lagi (dalam keadaan safar dan kurang prima), dan berharap tidak pernah ada kabar dari PMI tentang apapun kandungan dalam darahku.

Sekian.

Mari donor darah. Mari tidak melupakan bahwa PMI hampir selalu defisit kantong darah, apapun golongan darahnya.

Weary thirty

Dear my online diary which everyone can see,

I am thirty already and I am not at my best state of faith. That is a shame because I have been better in some variables. A few among them are fasting and Quran recalling. In other aspects, I doubt that I am better than my past, too. The irony is, at this low state, I am asking Allah one of the biggest provisions: a righteous husband.

How come I ask the biggest thing but I don’t even try to be the best slave to Allah? This does not make any sense but Allah’s Mercy is abundant and does not have to make sense.

So here I am wondering how far I have come in this life. How Merciful Allah Has Always Been to me. So I strive, hopefully the faith left in my heart grows bigger and I may die as a pious slave, married or not. Aamiin.

More crossroads

Suatu hari dalam perjalananku menyusuri jalanan, sendirian, aku bertemu persimpangan. Belum lama berjalan, rasanya, tibalah aku di persimpangan itu. Sangat polos, aku tidak menduganya. Kupikir tidak akan ada cabang dari jalan ini, jika pun ada, tidak sedekat ini.

Persimpangan itu sungguh ramah, karena ada papan petunjuk arah. Berapa jauh ke destinasi A dan berapa jauh ke destinasi B. 

Aku memilih terduduk di pinggir jalan itu dan menangis. Sebentar lagi aku akan bertanya pada sang Raja, yaitu hatiku, apa yang dia mau. Karena aku patuh padanya, akulah budak setianya, walau sering tampak berontak atau membangkang.

Aku akan bertanya sebentar lagi, segera setelah air mata di pipiku ini mengering. Tunggu ya, rajaku.

Aug 26, 2016

Visceral and Lacrimal

Pernahkah kau menangis hingga nyeri rongga dadamu?

Bersabarlah jika saksi tangismu adalah bantal atau kasur tempat kau bersembunyi dari dunia, tempat kau akhirnya melepas topeng senyummu dan menjadi dirimu sendiri yang rapuh.

Berbahagialah jika saksi rinai air matamu adalah kitab suci, yang diam saja kau basahi ketika kau baca untuk melipur lara.

Semoga saja tidak ada orang terkasihmu yang perlu melihat air matamu. 

Semoga Tuhan cukup bagimu untuk berbagi rasa gundah, untuk menjadi tempat mengeluh, atau pengakuan bahwa kau ini ternyata lemah, cengeng, dan sangat mudah menangis.

Semoga Tuhan Melimpahimu dengan kesabaran tanpa ujung.